05 May 2020, 09:57 WIB

Air Asia Indonesia Bicara Soal Kesulitan Bisnis Saat Pandemi


Hilda Julaika | Ekonomi


DIREKTUR Utama Air Asia Indonesia, Veranita Yosephine Sinaga membenarkan saat ini maskapai tengah berfokus pada perlindungan kesehatan dan keamanan penumpang serta karyawan. Dengan demikian, Air Asia tidak memaksakan melakukan penerbangan berjadwal ke rute-rute yang biasanya terbang dan memang diizinkan.

Pihaknya pun baru merencanakan baru akan membuka kembali penerbangan pada 18 Mei mendatang. Itu pun untuk rute internasional Johor Bahru-Surabaya dan Kuala Lumpur-Surabaya karena menilai wilayah Malaysia itu memiliki progres penurunan penyebaran covid-19 yang membaik.

“Prinsipnya sederhana. Bisnis bisa dicari, pendapatan bica dicari tetapi kematian enggak. Untuk itu, kami prioritaskan pada perlindungan kesehatan untuk karyawan Air Asia dan keamanan juga kesehatan penumpang,” jelas Veranita saat konferensi pers secara virtual, Senin (4/5).

Ibu dua anak ini tak memungkiri, saat ini kondisinya bisnis dan pendapatan (revenue) sedang sangat sulit imbas wabah covid-19. Namun, apabila memaksakan penerbangan maka risiko kesehatan. Efek lanjutannya, saat enggan melakukan antisipasi untuk meminimalisasi maka pandemi ini bisa berlanjut panjang.

“Jadi untuk revenue jadi malah jangka panjang ga dapat (kesulitan) juga karena berlanjut pandemi-nya. Revenue penting dan pendapatan penting. tapi yang lebih penting kesehatan,” imbuhnya.

Baca juga: AP II Tetapkan Capex Rp1,5 T di Tengah Pandemi Covid-19

Untuk itu, saat ini strategi pertama yang diterapkan oleh Air Asia Indonesia adalah mengistirahatkan penerbangan yang berjadwal. Bertujuan agar proses isolasi masyarakat bisa maksimal dan kondisi kesehatan serta perlindungan keamanan lebih terjamin.

Kedua, perlindungan kesehatan karyawan juga dijaga. Apabila nanti sudah terdapat progres yang membaik terkait penurunan penyebaran covid-19. Serta pemerintah sudah memastikan dalam keadaan virus terkendali barulah maskapai ini akan mendorong pemulihan (recovery) bisnis.

“Terkait recovery kita akan strateginya mencari rute mana yang potensial yang bisa dimaksimalkan. Memang itu jadi susah bergerak soal keuangan revenue. Setiap pilihan ada konsekuensi tapi perlindungan itu prioritas kami,” pungkasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT