05 May 2020, 09:46 WIB

Menlu Swedia: Kami tidak Memiliki Strategi Imunitas Sosial


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

PEMANDANGAN yang tampak asing: orang-orang makan di restoran, bermalas-malasan di taman dikelilingi orang lain, pergi bekerja, dan mengantar anak-anak mereka ke sekolah, atau mengobrol di toko-toko.

Pandemi virus korona telah memaksa hampir setiap negara di planet ini mengakhiri banyak elemen kehidupan sehari-hari dengan cepat. Kegiatan-kegiatan yang dulunya normal seperti di atas sebagian besar tidak mungkin dilakukan.

Tetapi satu negara tetap mengadopsi pendekatan yang unik dan kontroversial untuk menangani krisis kesehatan masyarakat. Swedia hanya meminta warga bertindak bertanggung jawab dan aman, serta mengandalkan supaya orang-orang melakukan hal yang tepat.

Baca juga: Pemerintah Spanyol Minta Parlemen Perpanjang Lockdown

Swedia mengambil langkah-langkah yang sangat berbeda dari tetangga dan rekan-rekannya di Eropa dalam menangani penyebaran covid-19. Negara Skandinavia ini tidak mengandalkan lockdown dan tetap membuka kegiatan di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.

Yang menjadi sorotan utama dan sekaligus kontroversial dari langkah Swedia adalah menahan orang tua di rumah namun membebaskan anak-anak.

Sebagian pihak menyebut Swedia sengaja membiarkan terjadi penularan supaya bisa mencapai kondisi herd immunity atau kekebalan sosial.

Kekebalan kawanan secara teoritis bisa terjadi ketika sebagian besar populasi telah terjangkit covid-19 dan pulih sehingga menjadi kebal.

Merespons hal itu, Menteri Luar Negeri Swedia Ann Linde berbicara kepada France 24, Senin (4/5), tentang pandemi covid-19 dan pendekatan spesifik yang diterapkan di negaranya. Penekanannya adalah menghindari lockdown dan mengandalkan kepercayaan dan disiplin masyarakat. Dia juga membahas masalah perbatasan Uni Eropa dan solidaritas Eropa.

"Kami tidak memiliki strategi herd immunity," ujar Menteri Luar Negeri Swedia Ann Linde kepada France 24 ketika ditanya tentang pendekatan khusus negaranya terhadap pandemi.

"Apa yang ada dalam strategi kami adalah kami tidak ingin menghentikan semua penularan, kami ingin meratakan kurva. Dan kami telah berhasil. Dan, misalnya, masih ada sekitar 20% tempat perawatan intensif yang kosong. Dan itu berarti walaupun (kami) sangat terpukul, sistem perawatan kesehatan sudah mampu menghadapi tekanan yang sangat besar tersebut, "jelas Linde.

"Kami merekomendasikan (agar) orang tidak pergi ke tujuan-tujuan wisata paling populer di Swedia selama Paskah dan ada penurunan 96% pada orang yang pergi ke destinasi tersebut," tambahnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT