05 May 2020, 08:37 WIB

Mendagri Tegaskan Narasi Covid-19 Daerah dan Pusat Harus Sama


Indriyani Astuti | Humaniora

MENTERI Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menekankan, dalam menangani dan menanggulangi pandemi Novel Coronavirus Disease 2019 (covid-19) beserta dampaknya, pemerintah pusat dan daerah harus satu narasi.

"Justru daerah yang memberikan informasi bagi kita, perwakilan dari pusat, dan kita mendapat masukan yang bisa saya sampaikan ke tingkat pusat, tapi pemikiran kita adalah sama, yaitu untuk menghadapi dan menyelesaikan covid-19. Terkait covid-19 ini, kita harus memiliki narasi yang sama" ujar Mendagri seperti dikutip dari siaran pers Kemendagri saat Mendagri berkunjung ke Kota Depok meninjau pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Senin (4/5).

Tito juga menyinggung soal posisi Depok dan Kota Jakarta. Menurutnya, Jakarta sebagai sebagai kota megapolitan tidak bisa terpisahkan dari kota satelit di sekitarnya mulai dari Tangerang, Depok, Bekasi, dan Bogor sehingga jutaan orang dapat hilir-mudik antarkota, dari Jakarta ke kota satelit lainnya atau sebaliknya sehingga apapun yang terjadi di Jakarta, dengan cepat berefek pada daerah sekitarnya.

Baca juga: Presiden Minta Data Penerima Bansos Dibuka

"Gejolak yang terjadi di Jakarta dan daerah sekitarnya akan juga mmpengaruhi gejolak di berbagai bidang dengan greater yang dikenal dengan istilah Jabodetabek," ucapnya.

Saat ini, lanjut Tito, Jakarta adalah daerah dengan jumlah pasien positif covid-19 tertinggi atau episenter penyebaran virus korona. Bahkan, tingkat kematian akibat virus tersebut juga tinggi di Jakarta. Hal itu berdampak pada daerah sekitarnya karena kebanyak penduduk di kota satelit sekitar Jakarta seperti Depok, bekerja di Jakarta.

"Karena itulah Kemendagri memberikan memberikan perhatian kepada daerah-daerah yang menjadi daerah merah tertinggi," ujarnya.

Menurut Tito, setelah dari Depok, rencananya ia juga akan berkunjung ke Kota dan Kabupaten Bekasi.  Yang pasti, hampir semua negara terdampak oleh covid-19.

Diutarakannya, dampak dari pandemi covid-19 memukul semua sektor tidak hanya kesehatan.

Bidang pariwisata, ujarnya, menjadi salah satu yang terancam kolaps dan terjadi di seluruh dunia. Banyak hotel dan restoran tutup atau dibatasi dengan pembatasan sosial.  Selain itu, pabrik-pabrik juga mengalami hal yang sama. Akibatnya permintaan terhadap produksi juga jatuh.

"Kita melihat bahwa krisis kesehatan di Indonesia juga berdampak pada ekonomi dari yang besar sampai yang kecil, dari perusahaan-perusahaan besar, menegah sampai yang mikro sampai yang ultra mikro, tukang-tukang gorengan segala macam, semua terdampak. Semua mengalami, pusat mengalami pukulan dari krisis ekonomi, lari ke krisis keuangan," katanya.

Hal itu, ujarnya menjadi dilema. Pemerintah harus mengutamakan antara esehatan masyarakat dengan menyelamatkan ekonomi. Namun, yang penting saat ini, imbuhnya, kesehatan masyarakat yang diutamakan. Tapi, ia menekankan bahwa menjaga stabilitas ekonomi tidak bisa diabaikan.

"Kalau duitnya tidak ada bagaimana, uangnya dari mana? Itu dari ekonomi. Sebaliknya kecepatan kita dalam menangani covid-19 akan membuat ekonomi cepat pulih juga, sehingga dua duanya ini tidak boleh salah satu dikosongkan atau dihilangkan," ujar Tito. (OL-1)

BERITA TERKAIT