05 May 2020, 08:16 WIB

Minyak Melonjak setelah Negara-Negara Umumkan Longgarkan Lockdown


Antara | Ekonomi

MINYAK melonjak pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena lebih banyak negara mengumumkan akan mulai mengurangi penguncian (lockdown) virus korona. Ditambah pemotongan pasokan minyak mentah oleh negara-negara dan perusahaan-perusahaan penghasil utama dunia berlangsung.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni, naik US$0,76 dolar AS atau 2,9%, menjadi ditutup pada US$27,20 per barel pada London ICE Futures Exchange. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Juni bertambah US$0,61 dolar AS atau 3,1%, menjadi menetap pada US$20,39  per barel di New York Mercantile Exchange.

Permintaan bahan bakar di seluruh dunia turun sekitar 30% pada April sebagian besar karena perintah tetap tinggal di rumah, dan konsumsi yang lemah diperkirakan akan menggerogoti pasar minyak mentah selama berbulan-bulan. Bahkan ketika produsen minyak dunia mulai mengurangi produksi pada 1 Mei.

Namun, para analis mengatakan bahwa tindakan cepat oleh pihak-pihak tersebut dapat membantu mengurangi kelebihan pasokan lebih cepat.

"Pasar terus mempertimbangkan gagasan bahwa segalanya membaik," Gene McGillian, wakil presiden riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

"Kita mengharapkan melihat pemangkasan produksi mulai muncul ... permulaan yang lambat tidak hanya di beberapa negara bagian di AS, tetapi beberapa negara di Eropa mulai sebagian mengurangi beberapa dari ketakutan permintaan," kata McGillian.

Italia, Finlandia, dan beberapa negara bagian AS berada di antara banyak pemerintah yang bergerak untuk mengurangi pembatasan penguncian pada Senin (4/5) untuk membangkitkan kembali ekonomi mereka, tetapi para pejabat memperingatkan agar tidak bertindak terlalu cepat ketika kasus virus korona melewati 3,5 juta dan kematian mendekati seperempat juta secara global.

Baca juga: Emas Kembali Naik, Investor Cari Aset Aman

Selain pemotongan pasokan baru yang dimulai bulan ini oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, produksi minyak dan gas dari beberapa perusahaan minyak top dunia akan turun pada kuartal kedua 2020 ke tingkat yang tidak terlihat dalam setidaknya 17 tahun.

Goldman Sachs mengatakan pihaknya semakin optimistis tentang kenaikan harga minyak tahun depan karena produksi minyak mentah yang lebih rendah dan pemulihan parsial dalam permintaan minyak.

Bank Wall Street menaikkan perkiraan 2021 untuk patokan global Brent menjadi US$55,63 per barel dari US$52,50 sebelumnya. Bank menaikkan estimasi untuk WTI menjadi US$51,38 per barel dari US$48,50 sebelumnya.

Munculnya kembali ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok membatasi kenaikan harga.

"Pertumbuhan permintaan di Tiongkok baik untuk pasar energi saat ini, itu adalah satu-satunya pilihan yang harus diterima jika ingin lebih baik," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

"Bahkan pertengkaran lisan dengan Presiden Trump tidak baik untuk pertumbuhan permintaan Tiongkok, mengingat kondisi pasar saat ini yang rapuh."

Menambah ancaman Presiden AS Donald Trump minggu lalu untuk mengenakan tarif pada Tiongkok, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan pada Minggu (3/5) ada "sejumlah besar bukti" bahwa virus korona baru muncul dari laboratorium Tiongkok.

Harga minyak memulihkan beberapa dari kerugian mereka setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan dia mengharapkan Tiongkok membuat yang terbaik dalam perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat. Dia juga mengatakan dia berharap pasar minyak akan pulih, dan bahwa pemerintahan Trump sedang mencari kapasitas penyimpanan yang lebih besar. (A-2)

BERITA TERKAIT