05 May 2020, 07:40 WIB

Melonjak, Korban Tewas Covid-19 di Prancis Capai 25.000


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

JUMLAH korban meninggal kasus virus korona (covid-19) di Prancis mencapai 25.000, Senin (4/5), setelah lonjakan baru dalam angka kematian harian akibat penyakit ini.

Kementerian Kesehatan Prancis mengatakan 25.201 orang sekarang dipastikan meninggal karena infeksi virus korona di rumah sakit dan panti jompo mereka. Selama 24 jam terakhir, 306 orang meninggal karena Covid-19, dua kali lipat dari angka 135 dari hari sebelumnya.

Namun mnurut angka terbaru ini, tren positif terus berlanjut. Jumlah penderita virus korona dalam perawatan intensif menurun 123 sehingga total terdapat 3.696 pasien yang menerima perawatan mendesak tersebut.

Di seluruh negeri, tercatat penurunan 267 pasien di rumah sakit yang menjalani perawatan covid-19, sehingga totalnya 25.548, kata kementerian.

Lonjakan angka kematian harian terjadi ketika Perdana Menteri Perancis Édouard Philippe, Senin, bersiap dengan rencana untuk mulai mengurangi lockdown negara 11 Mei kendati ada kekhawatiran pemerintah bergerak terlalu cepat untuk membuka kembali sekolah-sekolah serta keraguan atas ketersediaan masker.

Baca juga: Kematian Akibat Covid-19 AS Bisa 2 Kali Lipat karena Pelonggaran

Pada Minggu, lebih dari 300 wali kota dari wilayah Paris raya, termasuk Walik Kota Paris Anne Hidalgo, menulis surat terbuka kepada Presiden Emmanuel Macron mendesaknya untuk menunda pembukaan sekolah. 

Para pemimpin kota mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk reorganisasi luas ruang kelas dan rutinitas harian.

Di antara sekian banyak langkah-langkah baru adalah pembatasan hanya 15 siswa per kelas. Artinya ketentuan itu membuat para guru harus memastikan pembelajaran jarak jauh bagi mereka yang tidak dapat datang ke sekolah.

Para pejabat di wilayah lain--khususnya wilayah timur laut Prancis yang terpukul keras--juga mengatakan mereka tidak akan membuka sekolah minggu depan.

Tetapi Philippe mengatakan, penutupan sekolah merupakan “Malapetaka bagi anak-anak dan remaja yang paling rentan." Ia menambahkan kegagalan akademis dan putus sekolah berisiko menjadi ‘bom waktu’. (AFP/France24/A-2)

BERITA TERKAIT