05 May 2020, 06:15 WIB

Alquran sebagai Petunjuk


(Aiw/H-1) | Ramadan

TAFSIR Al Mishbah episode ke-12 membahas Alquran Surah Al Ahqaf ayat 9-14.  Secara garis besar, ayatayat ini membahas Alquran sebagai petunjuk. Dalam ayat ke-9 tertulis bahwa Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk menyampaikan, "Katakanlah, aku bukan orang pertama yang menjadi rasul, banyak rasul sebelum aku. Aku tidak tahu gaib kecuali apa yang Tuhan sampaikan padaku. Aku tidak tahu bagaimana Tuhan akan memperlakukanku dan bagaimana Tuhan akan memperlakukan kalian. Yang aku ikuti dengan sungguh sungguh hanyalah apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain kecuali pemberi peringatan yang jelas."

Kemudian ayat 10 berbunyi, "Katakan lagi wahai Muhammad, beritahulah aku bagaimana sikapmu kalau ini (Alquran) bersumber dari Allah lantas kamu mengingkarinya, tetapi ada seorang saksi dari Bani Israil yang menyaksikan bahwa ini benar. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang melampaui batas." Kaum musyrik sesungguhnya telah diberi petunjuk, tetapi mereka lebih senang kesesatan daripada petunjuk.

Oleh sebab itu, Allah membiarkannya. Di ayat selanjutnya, "Orang-orang kafir berkata kepada orang- beriman, kalau ini memang baik, mereka tidak akan mendahului kami masuk Islam. Itu tandanya ini bukan sesuatu yang baik sehingga mereka tidak mau mengambil petunjuk. Mereka akan berkata lagi bahwa apa yang dibawa Nabi Muhammad ini adalah kebohongan yang ada sejak masa lampau."

Orang-orang kafir tidak memercayai petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad karena mereka memiliki kekuasaan yang diartikan sebagai tanda cinta dari Tuhan. Kemudian dilanjutkan ayat setelahnya yang berbunyi, "Sebelum datangnya kitab suci Alquran, sudah ada kitab sebelumnya yaitu kitab Nabi Musa. Kitab Nabi Musa itu menjadi petunjuk bagi Bani Israil. Untuk memberi peringatan kepada orang yang melakukan kezaliman dan memberi berita gembira bagi orang-orang yang berbuat baik."

Zalim adalah ucapan, perbuatan, bahkan niat yang tidak pada tempatnya dan puncak dari kezaliman itu ialah mempersekutukan Tuhan. Ayat ini memberi peringatan kepada umat manusia agar tidak zalim. Pada ayat 13 dituliskan, "Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami Allah, kemudian istikamah, tidak ada rasa takut yang akan menimpa mereka dan mereka juga tidak akan bersedih." Dalam Islam, ucapan harus sesuai dengan isi hati dan apa yang diucapkan dituntut untuk diamalkan.

"Itulah yang kedudukannya sangat tinggi (penghuni surga) mereka kekal di dalam surga, imbalan atas apa yang mereka kerjakan," bunyi ayat 14. Diterangkan, dengan perilaku baik yang kita kerjakan di dunia, maka akan kita nikmati surga. Masuk surga adalah anugerah Allah, tapi tempat di surga ditentukan oleh amal kita. Karena itu, perbanyaklah melakukan kebaikan.

Dapat disimpulkan, terhadap sikap orang orang musyrik yang tidak mengakui kenabian Muhammad SAW, maka Nabi mengatakan bahwa dia bukan orang pertama yang menjadi rasul dan ada bukti bukti yang disampaikan. Sesungguhnya ada orang orang yang mengerti agama walaupun bukan muslim, tapi mengakui bahwa ini adalah kebenaran. Kitab suci Alquran membenarkan kitab-kitab sebelumnya dalam prinsi pprinsip ajaran agama. Akan tetapi, jika ada yang berbeda,apa yang disebutkan Alquran-lah yang harus diikut. (Aiw/H-1)

BERITA TERKAIT