05 May 2020, 06:00 WIB

Islam yang Rasional dan Berkemanusiaan


SYARIEF OEBAIDILLAH | Ramadan

DI masa pandemi covid-19 ini umat Islam tengah diuji dalam menjalankan berbagai aktivitas, termasuk beribadah. Seperti salat Tarawih dan salat Jumat yang sudah disuarakan MUI Pusat juga ormas Islam NU dan Muhammadiyah agar dilakukan di rumah. Meski begitu, masih ada sebagian anggota masyarakat yang tetap berkukuh untuk beribadah di masjid dan musala sehingga menimbulkan polemik di masyarakat. Penulis buku Fiqh Covid-19, Ustaz Abdul Mutaali, pun mencoba meluruskannya.

"Yang dilarang bukan salatnya, tetapi berkumpul dan berkerumunnya warga di tempat ibadah. Nah, ini yang disalahpahami, ditanggapi emosional dan tidak rasional. Jadi, dengan kita salat di rumah kita menghindari penularan (wabah) satu sama lain," tegasnya saat Diskusi Ramadhan 1441 H bertajuk Urgensi Fiqh Covid-19 yang berlangsung virtual dan dipandu Ketua DKM Masjid Nursiah Daud Paloh Ade Alawi, kemarin.

Turut hadir sebagai narasumber Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar. Abdul Mutaali yang juga dosen UI ini mengingatkan bahwa Islam merupakan agama rasional dan kemanusiaan yang menuntun umatnya dengan Alquran, hadis, serta tuntunan ulama. Ia membeberkan, islam diturunkan di Timur Tengah 15 abad silam untuk menjaga harkat kemanusiaan dari berbagai tradisi peperangan kabilah-kabilah Arab saat itu.

Sebagai agama yang berkemanusiaan, Allah menegaskan prinsip itu dengan turunnya surat khusus tentang manusia, yakni Annas. Mutaali menuturkan, kemunculan wabah penyakit menular bukan kali ini saja terjadi. Pada masa Rasulullah SAW pun beberapa kali kasus penyakit menular pernah muncul. Rasulullah SAW pernah meminta umat untuk salat di rumah manakala terjadi hujan lebat dan wabah flu menyerang warga, termasuk keluarga Rasul. Karena wabah, Rasulullah pernah melarang umat Islam berkunjung ke Syam yang jaraknya amat jauh dari Kota Madinah dan Mekah.

"Saat itu Rasulullah berdoa agar Mekah dan Madinah menjadi kota yang dicintai para umat," ujarnya. Fakta adanya sebagian kecil umat Islam yang masih ngeyel, emosional, dan tidak rasional dalam beribadah, tidak bisa dinafikan. Karena itu, Abdul Kohar sebagai praktisi media berharap kehadiran buku Fiqh Covid-19 yang ditulis Abdul Mutaali dapat menjadi bahan literasi pemahaman yang positif bagi umat.

"Padahal pimpinan ormas Islam besarnya sudah melarang Tarawih di masjid, tetapi umat lokal masih melaksanakan. Di sini perlu tokoh-tokoh lokal, juga buku Fiqh Covid-19 ini disosialisasikan ke bawah," kata Abdul Kohar. Pentingnya fikih Pengurus Pusat Fatayat NU, Dewi Ani Endriyanti, mengungkapkan bahwa memahami fikih atau ilmu tentang hukum Islam dalam melakukan segala sesuatu sangat penting, termasuk berpuasa dalam kondisi pandemi sekarang ini. "Sesungguhnya seorang yang berilmu lebih ditakuti oleh setan daripada seribu orang yang ahli ibadah tapi tanpa ilmu," kata Dewi menyitir sebuah hadis saat tausiah daring yang digelar Masjid Istiqlal, pekan lalu. (Aiw/H-2)

BERITA TERKAIT