05 May 2020, 06:00 WIB

Misteri Sunatullah


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

SUNATULLAH dalam arti ketentuan Allah terjadi tidak hanya dalam lingkup perjalanan hidup manusia, tetapi juga kehidupan alam semesta termasuk binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda alam lainnya. Semua harus tunduk kepada ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT.

Fakta membuktikan alam semesta secara konstan berlaku tanpa ada pergeseran sedikit pun. Dalam ayat ditunjukkan bukti misalnya: ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya’. (QS Yasin: 38-40).

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menetapkan alam semesta tunduk terhadap ketentuan Allah SWT. Matahari, bulan, dan planet lainnya berjalan di atas rel peredarannya tanpa pernah mengalami perubahan.

Siklus peredaran planet itu berjalan secara beraturan, memungkinkan terjadinya pergantian siang dan malam secara teratur. Ketetapan seperti itu memungkinkan manusia menentukan kalender kehidupan yang berlaku secara konstan.

Tumbuhan juga mengalami hal yang sama. Allah SWT menjelaskan: ‘Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah (QS al-Haj/22:5)’.

Dalam ayat lain ditambahkan: ‘Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan (QS Yasin/36:33)’.

Sunatullah yang berjalan secara konstan itu ternyata amat mendukung kapasitas manusia dalam memikul tanggung jawabnya sebagai khalifah dan sebagai ‘abid.

Allah SWT memang telah menegaskan bahwa alam semesta ini akan ditundukkan kepada manusia, sebagaimana dijelaskan: ‘Allah-lah yang
menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir (QS al-Jatsiyah/45:12-13).’

Contoh lain penggunaannya dalam Alquran ialah: ‘Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (QS Ali ‘Imran/3:137).’

Yang dimaksud ‘sunah-sunah Allah’ ialah ketentuan kehidupan yang ditetapkan Allah SWT terhadap manusia. Kenyataan hidup yang menjadi sunatullah dimaksudkan sebagai pelajaran berharga bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Manusia seharusnya tidak boleh jatuh ke dalam lubang yang sama karena Allah SWT telah memberikan contoh dari perjalanan hidup manusia.

Ayat-ayat tersebut di atas menegaskan sunatullah pada diri manusia dan kehidupan masyarakat tidak akan terjadi perubahan. Dengan demikian, manusia bisa belajar dari sejarah untuk meraih kesuksesan dan tidak jatuh di dalam perjalanan hidupnya.

Jika manusia, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat, menjalani kehidupan dengan sembrono, tidak belajar dari sunatullah yang terbentang dalam sejarah, maka ia akan memperpendek usianya.

BERITA TERKAIT