04 May 2020, 17:15 WIB

Berkah Karbon Bujang Raba di Tengah Wabah Covid-19


Solmi | Ekonomi

KESULITAN ekonomi akibat dampak wabah korona  melanda jauh sampai ke desa. Termasuk di desa sekitar Hutan Lindung Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba), di wilayah Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.

Kebun karet yang selama ini jadi andalan pendapatan warga, tidak lagi disadap. Pasalnya, pasar lelang karet tutup pabrik karet pun mengurangi pembelian. Apalagi harganya tidak menguntungkan petani. Kondisi serupa juga terjadi di banyak desa di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Provinsi Jambi.

Beruntung, warga di lima desa sekitar Hutan Lindung Bujang Raba tersebut, mendapat berkah dari hasil penjualan karbon dari kawasan hutan yang mereka jaga dan kelola dengan baik selama ini.

Dari hasil penjualan karbon Hutan Lindung Bujang Raba ke Pasar Karbon Suka Rela tahun ini, sudah terhimpun dana sebesar Rp1 miliar. Dari hasil kesepakatan pemuka dan masyarakat desa, dana tersebut dibelikan sembako dan dibagikan merata kepada 1.259 kepala keluarga di sana yang terlibat dalam pengelolaan Hutan Lindung Bujang Raba.

"Alhamdulillah. Ini adalah berkah Ramadan. Semoga hutan kami terus terjaga dan lestari, supaya karbonnya makin banyak," Aisyah, warga Dusun Laman Panjang usai menerima jatah pembagian, Minggu (3/5).

Hutan Lindung Bujang Raba sejak dikelola masyarakat lima desa dengan skema Hutan Desa mampu mempertahankan tutupan hutan. Nyaris zero kehilangan tegakan pohon, artinya semua karbon tersimpan dalam bentuk stok karbon alam, tidak ada yang dilepas ke udara.

"Penyimpanan karbon dalam kawasan hutan inilah yang menjadi nilai tambah Bujang Raba. Sejak 2018 Bujang Raba masuk pasar karbon sukarela," kata Emmy Primadona, Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia Warsi.

Tahun ini, kembali Bujang Raba mendapat berkah karbon. Terkumpul dana karbon yang cukup besar Rp1 miliar.  Dana yang terkumpul ini dibagi untuk desa yang mengelola hutan desa di Bujang Raba. Melalui diskusi dengan masyarakat, dana karbon dijadikan paket sembako, kebutuhan pembangunan sarana publik dan dana operasional kelompok Pengelola Hutan Desa.

"Secara bertahap paket ini sudah dibagikan ke desa-desa pengelola hutan desa," kata Emmy. Untuk Tahap awal, sebanyak 504 paket diserahkan ke Desa Sungai Telang, 243 di Desa Senamat ulu  243  dan 198 paket di Desa Laman Panjang , sejak Jumat hingga Minggu kemarin di masing-masing desa. Sedangkan dua desa lagi, yaitu Lubuk Beringin dan Sangi Letung, dana karbon yang akan disalurkan masih belum diputuskan oleh masyarakat desanya.

Masing-masing paket sembako antara lain berisi beras, telur, minyak dan lainnya tergantung dari permintaan masing-masing desa. Untuk mengurangi kerumunan pembagian sembako dilakukan per jorong  di masing-masing desa.

"Berkah Ramadan dari dana karbon ini awalnya masih menjadi tanda tanya di masyarakat. Bagaimana mungkin hutan yang tumbuh di sekitar mereka bisa menghasilkan uang tanpa mengganggu hutan mereka. Bagaimana mungkin menjual angin? Pakai apa membawa anginnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat menjadi pertanyaan masyarakat ketika pasar karbon sukarela mulai berjalan," kata Emmy.

Dengan penjelasan logis dan kemudian sejalan dengan skema internasional untuk adanya mitigasi dan adapasi perubahan iklim, kegiatan ini dipahami dan kini masyarakat bisa menikmatinya.

"Kita melihat dengan bantuan ini, cukup membantu meringankan beban masyarakat di tengah wabah pandemi ini," kata Emmy.

Pasar karbon sukarela yang digagas Warsi, bukanlah menjadi tujuan awal.  Hanya saja ketika hutan yang diperlihara dengan baik oleh masyarakat desa ini,  memperlihatkan tidak adanya deforestasi dan degradasi hutan, tentu sejalan dengan pelaksanaan program Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+), yang mulai di gagas sejak COP 13 di Bali.

Diberberkan Emmy, REDD + merupakan upaya untuk memberikan insentif keuangan dalam mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Salah satu bentuk dari kegiatannya adalah perdagangan karbon.

Istilah perdagangan karbon merepresentasikan aktivitas penyaluran dana dari negara-negara penghasil emisi karbon kepada negara-negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang mampu menyerap emisi karbon secara alami. Kriteria negara penerima adalah mampu mempertahankan hutan  dari deforestasi dan degradasi.

Bujang Raba adalah salah satu proyek REDD masyarakat Indonesia pertama dengan kegiatan mitigasi dengan menyimpan 670.000 tCO2 dengan mencegah deforestasi dalam kurun waktu sepuluh tahun (2014-2023). Dalam proyek REDD, desa-desa di Bujang Raba berkomitmen melindungi 5.336 hektar
hutan primer dari konversi ke non-hutan. Komitmen ini akan melindungi ekosistem hutan tropis dataran rendah yang terancam punah.

Sejak 2013, KKI Warsi tertarik mengembangkan model REDD+ di level komunitas atau Community Carbon. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat peran masyarakat memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus untuk mengetahui bagaimana pasar carbon sukarela (voluntary carbon market) bekerja.

Tahap awal, Warsi antara lain memastikan tidak ada perubahan tutupan hutan, lalu menghitung stok karbon, dan menyiapkan Project Design Document (PDD) untuk Program Plan Vivo. Sejalan dengan itu, di tingkat masyarakat dilakukan penggalian aspirasi dan penguatan kesepakatan pengelolaan kawasan hutan berkelanjutan.

Seluruh kegiatan diukur kinerjanya oleh pihak ketiga dengan melakukan verifikasi dan validasi lapangan sampai kemudian Warsi memiliki akun di Carbon Market.

Di Carbon Market, Bujang Raba ditawarkan ke berbagai pihak. Akan tetapi, tidak mudah mendorong pasar karbon sukarela ini, apalagi di tengah regulasi yang belum memihak masyarakat sebagai penerima manfaat langsung dari perdagangan karbon.

Tidak mudah pula menemukan pembeli.  Proyek perdana penjualan karbon Bujang Raba diluncurkan pada 2015. Baru pada 2018 pembeli berhasil didapatkan, melalui jasa broker (buyer yang menghendaki tidak langsung ke seller.  Jasa broker diperlukan untuk melakukan survei kelayakan lokasi. Selain itu, pasar karbon masih mengambang --belum terlalu jelas siapa dan bagaimana prosesnya. Namun, upaya untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat mendorong Warsi untuk terus mencoba.

Transaksi perdana karbon dari Bujang Raba mencapai 6000 ton pada 2018 lalu. Dananya dimanfaatkan langsung untuk mendukung kegiatan layanan kesehatan dan pendidikan  (paket beasiswa), penguatan institusi Hutan Desa di lima desa dalam kawasan Bujang Raba serta peningkatan ekonomi masyarakat dan biaya operasional pengamanan kawasan.

Selanjutnya pasar karbon terus bergulir dan pembelian tahap berikutnya juga berjalan. Saat ini sedang dalam proses penggalian pada masyarakat untuk distribusi manfaat dana karbon yang tertumpul. Tentu harapannya, dana karbon ini bisa dirasakan manfaatnya oleh 1.259 rumah tangga sekitar Hutan Lindung Bujang Raba yang menggantungkan hidup dan mata pencaharian mereka pada alam melalui agroforestry berkelanjutan. (OL-13)

 

BERITA TERKAIT