04 May 2020, 16:05 WIB

Mengenal Tito, Pemimpin Sosialis Yugoslavia dan Gerakan Non-Blok


Adiyanto | Weekend

JOSIP Broz Tito, yang wafat 40 tahun lalu di usia 87, merupakan bekas pemimpin Yugoslavia yang dihormati dan ditakuti.  Namun, setelah ia meninggal pada 4 Mei 1980, tidak ada pemimpin di negara itu yang dapat menyatukan berbagai etnis di sana. Yugoslavia yang  didirikan usai Perang Dunia ke II, sebagai negara federal yang terdiri dari Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro dan Makedonia, akhirnya tercerai berai pada era 90-an

Dikagumi karena mengusir pasukan Jerman Nazi dalam Perang Dunia II dengan para pejuang partisannya, Tito pernah membawa kemakmuran bagi Yugoslavia dan berhasil menyeimbangkan antara kekuatan timur dan barat selama Era Perang Dingin.

Namun, sebagai presiden, Tito juga memenjarakan lawan politiknya, menikmati gaya hidup mewah, dan dikritik karena mendorong budaya individualisme.

Berikut lima hal yang perlu diketahui tentang Tito seperti disarikan dari AFP.

Siapa dia sebenarnya?  

Meskipun ia adalah pemimpin federasi Yugoslavia yang tidak diragukan selama hampir empat dekade, rumor yang sejak lama beredar bahwa asal-usul Tito yang sebenarnya bukanlah dari Yugoslavia.

Menurut biografi resminya, ia lahir di kota Kumrovec, Kroasia, dari ayah Kroasia dan ibu Slovenia.

Sebuah teori konspirasi bahkan merebak bahwa Tito "asli"  sebenarnya tidak pernah kembali setelah ia ditangkap oleh Rusia selama Perang Dunia I. Menurut gossip yang beredar, agen Rusialah yang mengambil identitasnya dan kemudian membangun Yugoslavia.

Pada 2015, sebuah tabloid Serbia mengklaim CIA, lembaga intelijen AS, telah meneliti melalui analisis fonetis bahwa Tito berbicara bahasa Serbo-Kroasia dengan aksen asing dan bahwa ia mungkin berasal dari Rusia atau Polandia.

Pulau pengasingan

Beberapa orang mengingat pemerintahan Tito sebagai era keemasan sosialisme, ketika pekerjaan, layanan kesehatan gratis, dan pendidikan berkualitas tersedia untuk semua.

Tetapi diktator itu juga seorang pemimpin kejam yang menempatkan ribuan lawan politiknya di penjara dan kamp khusus, termasuk penjara di Pulau Goli Otok, Kroasia, tempat ratusan orang tewas di sana.

Namun, jumlah total korban rezim Tito tidak pernah secara resmi diumumkan.

Hidup Mewah

Selama kepemimpinannya ada hal kontradiksi dalam diri Tito. Di satu sisi, dia sangat mengagungkan sosialisme yang menjunjung persamaan dan kesederhanaan, namun dia sendiri menikmati selera dan gaya hidup mewah, dari mulai pesta dansa-dansi hingga menikmati cerutu Kuba yang mahal, dan memiliki sejumlah kapal pesiar.

Gaya hidup mewah yang ia tunjukkan bersama istrinya Jovanka, yang terakhir dari tiga pernikahan resminya, mengesankan bintang Hollywood, Richard Burton, yang mengunjungi pasangan itu pada 1971.

"Mereka hidup dalam kemewahan luar biasa yang tak tertandingi oleh apa pun yang pernah saya lihat," tulis Burton dalam buku hariannya.

Burton adalah salah satu dari sejumlah selebritas, selain  Sophia Loren, Gina Lollobrigida, Elizabeth Taylor, serta Ratu Elizabeth II, yang pernah menjadi tamu Tito di Beograd atau di kediaman musim panasnya yang terletak di tepi laut.

Namun, gaya hidup mewah ini pada akhirnya, tidak meninggalkan banyak warisan bagi keturunannya. Barang-barang miliknya Tito kini menjadi koleksi Museum Yugoslavia.

Kegiatan Pemuda

Ulang tahun resmi Tito, 25 Mei, selama beberapa dekade dirayakan dengan meriah sebagai Hari Pemuda Nasional.

Mulai 1947, para pemuda di seluruh Yugoslavia berpartisipasi mengikuti lomba estafet nasional untuk memberikan tongkat kepada pemimpin komunis itu yang akan menerima hand-off terakhir di stadion sepak bola di Beograd.

Estafet selama sebulan itu berlangsung di sebagian besar kota-kota besar di negara itu dan disiarkan di radio dan televisi nasional. Anak-anak muda itu terus membawa tongkat, yang memiliki pesan untuk Tito di dalamnya. Kegiatan tahunan ini setidaknya berlangsung hingga 1987.

Gerakan Non Blok

Setelah berpisah dengan diktator Soviet Joseph Stalin pada 1948, Tito membina hubungan dengan negara-negara barat. Namun, pada 1961, ia menjadi salah satu pendiri Gerakan Non-Blok bersama para pemimpin lainnya seperti Jawaharial Nehru (India), Soekarno  (Indonesia), serta Gamal Abdul Nasir (Mesir). Forum negara-negara ini menawarkan alternatif di tengah persaingan timur dan barat pada era Perang Dingin.

Saat ini,  gerakan Non-Blok memiliki sekitar 120 anggota, tetapi dari bekas republik Yugoslavia, hanya Serbia dan Montenegro yang  hingga kini tetap terlibat sebagai pengamat. (M-4)

BERITA TERKAIT