04 May 2020, 13:55 WIB

Masyarakat Adat Mauponggo Gelar Ritual Adat Halau Covid-19


Alexander P. Taum | Nusantara

BERAGAM cara dilakukan banyak pihak guna melindungi warganya dari wabah Covid-19. Salah satu contohnya warga masyarakat di wilayah Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Masyarakat adat  setempat menggelar ritual adat Tolak Bala guna menghalau masuknya pandemi Covid-19. Dilangsungkan di Kampung Sawu yang dipimpin Agus Talo. Tujuan dari ritual adat tersebut agar segenap leluhur bersama masyarakat di wilayah Kecamatan Mauponggo,  Kabupaten Nagekeo menolak pandemi Covid-19 untuk tidak boleh masuk ke wilayahnya.

"Hari ini, kami semua dari masyarakat, pemerintah Kecamatan Mauponggo, kepala desa serta para tokoh adat dan tokoh agama menggelar ritual Tolak Bala dalam upaya menentang masuknya serangan pandemi Covid-19," ungkap Agus Talo, Senin (4/5).

Agus Talo menyampaikan, ritual Tolak Bala ini merupakan dari kearifan budaya lokal masyarakat di wilayah Kecamatan Mauponggo yang digelar untuk mencegah atau melindungi masyarakat dari berbagai musibah atau malapetaka.

Baca Juga: ​​​​​​​Covid-19: Jepang Perpanjang Masa Darurat Hingga 31 Mei

Pada kesempatan itu, Tokoh Adat dari Kampung Pajo, Mikael Dhae, mengatakan, selain untuk mencegah masuknya serangan pandemi Covid-19,  ritual ini juga digelar karena fakta tidak biasa melanda masyarakat lokal. Seperti, adanya serangan hama pertanian maupun kematian beruntun yang melanda masyarakat di wilayah Kecamatan Mauponggo.

"Karena itu ritual adat ini digabungkan sebagai satu kesatuan untuk menentang semua musibah atau yang biasa disebut dalam bahasa daerah 'Roka re ae nanga jepi re ae mesi. Ritual adat Tolak Bala ini dibuat menggunakan pelepah kelapa dan dibungkus dengan sarung serta dirias seperti sampan kecil. Didalam sampan yang sudah rias tersebut diisi dengan pakaian bekas, telur ayam kampung yang busuk, batang pisang lalu dibungkus dengan kain hitam sebagi simbol pandemi Covid-19 yang merupakan bencana untuk diusir agar tidak boleh serang ataupun masuk ke wilayah Mauponggo," paparnya.

Mikael menambahkan, para kepala desa juga memiliki dukungan untuk bergandengan tangan bersama masyarakat serta tokoh-tokoh adat dan agama untuk mengatasi berbagai tantangan bencana.

"Masyarakat telah dihimbau melalui pemerintah desa untuk melakukan langkah-langkah yang sesuai dengan protap yang diberikan oleh pemerintah," tuturnya.

Mikael berharap dengan peran semua yang tidak sempurna ini, maka seluruh tantangan yang akan terjadi kemudian akan berlalu dan aktivitas masyarakat dapat kembali dengan normal.

Turut hadir dalam acara ritual Tolak Bala tersebut Ketua DPRD Nagekeo, Marselinus Fabianus Ajo Bupu, anggota DPRD Nagekeo, Patrisius Bhoko, Marselinus Siku, Bruno Sawi,  Camat Mauponggo, Leonardus Loda, Lurah Mauponggo, Yohana Tie, Kapolsek  Mauponggo, Gunter Meo, Danramil 1625-04 Kecamatan Mauponggo, Komang Sumadana, serta para tokoh adat kampung  sawu, kampung ledho, kampung guwolo, kampung kotapau dan segenap masyarakat lainnya yang berada di wilayah Kecamatan Mauponggo tersebut. (OL-13).

Baca Juga: Pengamat: Status Quo Harga BBM saat Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Baca Juga:

 

BERITA TERKAIT