04 May 2020, 13:10 WIB

Pengamat: Status Quo Harga BBM saat Fluktuasi Harga Minyak Dunia


Antara | Ekonomi

KENDATI harga crude oil mengalami penurunan, ekonom konstitusi Defiyan Cori menyarankan, agar Pemerintah tidak menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Menurut Defiyan, banyak faktor yang harus dipertimbangkan jika Pemerintah ikut menurunkan harga BBM. Di antaranya, karena harga minyak yang masih terus berfluktuasi.

“Pemerintah sebaiknya status quo saja. Karena fluktuasi harga (minyak dunia) saat ini akan terus berlanjut,” kata Defiyan di Jakarta, kemarin.

Sebagai contoh, sebenarnya harga minyak dunia pun tidak terus pada posisi menurun. “Bahkan, menurut data yang saya miliki, hari ini minyak Brent kembali naik pada posisi USD 23-26 per barel,” lanjut Defiyan. Sebagaimana diketahui, minyak Brent inilah yang menjadi acuan harga BBM di Indonesia.  

Menurut Defiyan, Pemerintah memang sebaiknya mempertimbangkan banyak faktor. Selain harga crude oil yang tidak bisa diprediksi dan masih fluktuatif, juga karena saat ini konsumsi BBM sebenarnya mengalami penurunan. “Dan asumsi APBN kita juga akan berubah total,” kata dia.

Fluktuasi harga minyak dunia tersebut, diperkirakan akan terus berlanjut selama 1-2 bulan ke depan. Setelah itu akan terus menguat sekitar Juli 2020. Ini terjadi, karena adanya pemulihan ekonomi setelah pandemi COVID-19 di berbagai negara, termasuk Jepang dan Tiongkok.
 
“Jadi, memang perlu dilakukan komunikasi kepada masyarakat terkait informasi posisi strategis migas Indonesia saat ini. Dengan demikian, masyarakat mendapat informasi terkait kondisi harga BBM, yang selain dipengaruhi harga minyak dunia, juga terpengaruh kondisi bisnis di tengah wabah COVID-19,” ujar Defiyan. (OL-13)

BERITA TERKAIT