04 May 2020, 09:00 WIB

​​​​​​​Menlu AS: Ada Bukti Virus Korona Berasal dari Lab Tiongkok


Nur Aivanni | Internasional

MENTERI Luar Negeri AS Mike Pompeo, pada Minggu (3/5), mengatakan ada bukti yang sangat besar yang menunjukkan virus korona baru (covid-19) berasal dari sebuah laboratorium di Tiongkok.

Komentar Pompeo muncul ketika Eropa dan beberapa bagian Amerika Serikat bersiap untuk secara hati-hati mencabut penguncian wilayah atau lockdown akibat virus itu ketika muncul tanda-tanda pandemi mulai berkurang dan pemerintah berupaya memulai kembali ekonomi mereka.

Lebih dari 245.000 orang meninggal dan 3,4 juta orang terinfeksi di seluruh dunia oleh virus yang telah membuat setengah dari umat manusia berada di bawah semacam penguncian.

Presiden AS Donald Trump, yang semakin kritis terhadap manajemen Tiongkok tentang wabah pertama di kota Wuhan pada Desember, pekan lalu mengklaim memiliki bukti bahwa virus itu dimulai di laboratorium Tiongkok.

Para ilmuwan percaya virus itu melompat dari hewan ke manusia, setelah muncul di Tiongkok, kemungkinan dari pasar di Wuhan.

Tiongkok membantah klaim itu dan Direktur Intelijen Nasional AS mengatakan bahwa para analis masih memeriksa asal mula wabah itu.

Baca juga: Prancis: Karantina tak Berlaku bagi Warga UE dan Schengen

Pompeo mengatakan kepada ABC bahwa dia setuju dengan pernyataan dari komunitas intelijen AS bahwa virus covid-19 bukan buatan manusia atau dimodifikasi secara genetis.

Tapi Pompeo melangkah lebih jauh dari Trump, dengan menyebut bukti "signifikan" dan "sangat besar" bahwa virus itu berasal dari laboratorium Wuhan.

"Saya pikir seluruh dunia dapat melihat sekarang, ingat, Tiongkok memiliki sejarah menginfeksi dunia dan menjalankan laboratorium di bawah standar," katanya. "Presiden Trump sangat jelas, kami akan meminta pertanggungjawaban mereka," tambahnya.

Laporan-laporan berita AS mengatakan Trump telah menugaskan mata-mata AS untuk mencari tahu lebih lanjut tentang asal-usul virus itu. Amerika Serikat memiliki kematian akibat virus korona terbanyak di dunia yaitu lebih dari 67.000. (AFP/A-2)

BERITA TERKAIT