04 May 2020, 06:03 WIB

Gus Mus: Di Rumah Saja dan Tidak Mudik Adalah Sedekah


Furqon Ulya Himawan | Ramadan

JALAN kebaikan itu banyak sekali. Banyak amal kebaikan yang bisa kita lakukan, mulai dari iman kepada Allah yang menjadi amal paling utama, sampai menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang di jalan juga merupakan amal kebaikan yang mendapatkan pahala. Bahkan berdiam diri di rumah saja, tidak mudik dan melaksanakan salat jamaah di rumah bersama keluarga di masa pagebluk covid-19 seperti sekarang, juga merupakan jalan kebaikan dan bisa menjadi sedekah.

"Jadi kebaikan itu macam-macam. Punya banyak duit bisa sedekah, tidak  punya duit bisa membaca tasbih, tahlil, perintah kebaikan juga sedekah, mencegah kemungkaran juga sedekah. Banyak peluang untuk bersedekah," kata KH. A. Mustofa Bisri, dalam Ngaji Pasanan di Pondok Pesantren  Raudlatut Tholibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Minggu (3/5).

Menurut Gus Mus, sapaan karib pengasuh Ponpes  Raudlatut Tholibin, sedekah tidakharus menggunakan uang. Seperti penjelasan dalam kitab Akhlaq al-Muslim Alaqotuhu bi al-Mujtmak, karya Syaikh Wahbah az-Zuhaily, yang Gus Mus bacakan di Ngaji Pasanan setiap habis salat tarawih.

Dalam kitab itu, menurut Gus Mus, ketika ingin beramal kebaikan memberikan sesuatu tapi tidak punya apa-apa, mau bicara yang baik juga tidak bisa, maka mencegah tidak melakukan sesuatu yang buruk juga bisa menjadi sedekah.

"Ya sudah, mencegah saja. Seperti sekarang ini, kenapa kita tidak keluar, kalau (di rumah saja) diniati yang benar, itu sedekah," kata Gus Mus.

Berdiam di rumah saja, lanjut Gus Mus, niatkanlah untuk menolak penyakit dan keburukan. Bisa jadi, ketika kita keluar rumah dan berkumpul dengan banyak orang, kita malah menularkan virus Covid-19.

"Bukan saya takut kalau ketularan orang, tapi takutnya kalau saya menulari orang," imbuh Gus Mus.

Banyak orang mengira, lanjut Gus Mus, sedekah itu harus menggunakan uang, padahal tidak. Dalam kitab karya Syaikh Wahbah az-Zuhaily, itu, orang bisa bersedekah tanpa harus menggunakan duit sama sekali. Caranya dengan keikhlasan melakukan sesuatu yang baik untuk sesama.


"Bukan persoalan kamu ketularan, tapi kalau kamu menulari. Kamu kok egois sekali, ini untuk kepentingan bersama. Dalam Islam, kepentingan bersama itu penting," jelas Gus Mus.

Gus Mus memberikan contoh di Cina yang bisa keluar dari pagebluk covid-19 dengan cepat, karena masyarakatnya mau mematuhi aturan untuk tidak keluar rumah dan tidak berkumpul terlebih dahulu.

Berbeda dengan di Indonesia yang masyarakatnya cenderung tidak mau mematuhi aturan seperti adanya aturan dari pemerintah untuk tetap di rumah saja atau larangan mudik. Mereka, lanjut Gus Mus, hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak mau memikirkan orang lain.

"Aku enggak takut. Aku lebih takut Tuhan daripada korona. Lah ini malah bahaya. Kok menyandingkan Allah dengan korona. Lah korona itu apa kok dibandingkan Gusti Allah," kata Gus Mus tentang alasan orang-orang yang mengaku tidak takut pada Covid-19 dan mengabaikan kepentingan bersama.

Menurut Gus Mus, dalam situasi normal saat tidak ada covid-19, salat jamaah adalah ibadah yang baik. Namun ketika situasi tidak normal seperti sekarang, maka ibadahnya dilakukan secara khususdi rumah saja.

"Sementara jangan kumpul orang banyak," kata Gus Mus.

Dan di saat pagebluk Covid-19 ini, Gus Mus mengajak semuanya untuk melakukan sedekah massal, tidak usah memakai uang seperti yang dalam keterangan kitab Akhlaq al-Muslim Alaqotuhu bi al-Mujtmak. Yakni dengan melakukan kebaikan-kebaikan seperti amar makruf nahi munkar, bikin status di media sosial yang baik, jangan bermusuhan dengan orang lain perbuatan baik lainnya.

baca juga: Melawan Amal Ria

"Jadi ayo lakukan gerakan sedekah besar-besaran biar balak yang besar ini segera usai, karena sedekah bisa menolak balak, dan sedekah enggak harus dengan uang, mesem juga sedekah," ajak Gus Mus. 

"Orang kaya memakai hartanya untuk sedekah, dan bagi yang tidak punya uang, bisa melakukan ibadah badaniyah untuk bersedekah," imbuh Gus Mus tentang jalan kebaikan yang ada dalam kitab Akhlaq al-Muslim Alaqotuhu bi al-Mujtmak. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT