04 May 2020, 06:20 WIB

Pandemi Abrahah


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

SELAIN pandemi unta yang dikirim ke Raja Tsamud yang korup, pandemi lintah ke kaum Talut yang keras kepala, masih ada satu lagi pandemi yang ditujukan kepada Raja Abrahah, sang penguasa Yaman yang rakus.

Abrahah ingin mengambil alih Kabah dan memindahkannya ke Yaman dengan motif ekonomi. Ia membayangkan jika Kabah dipindahkan ke Yaman, pasti negeri itu akan kaya raya karena para peziarah spiritual pindah ke Yaman.

Manusia merencanakan, tetapi Allah SWT yang menentukan. Ambisi di kepalanya belum dingin, tiba-tiba di pinggir Kota Mekah pasukannya dihadang serombongan burung atau serangga yang membawa virus untuk menyerang mereka. Ketika pasukan Abrahah atau biasa disebut Pasukan Bergajah yang diabadikan dalam QS al-Fil (105) bermaksud mengambil alih Kabah di Mekah, mereka malah dihancurkan dengan azab yang mengerikan.

Seluruh tentara dan gajah yang ditumpangi mereka hancur melalui serangan burung atau serangga Ababil, sebagaimana dilukiskan di dalam
Al-Quran: ‘Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kabah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).’ (QS al-Fil:1-5)

Menurut seorang ahli medicohistorico, Dr Kurtz Sprenger, musnahnya pasukan Abrahah tersebut karena epidemi cacar yang sangat dahsyat. Alasannya, epidemi sejenis itu mula-mula menjangkit di Jazirah Arab, bersamaan dengan peristiwa hancurnya pasukan Abrahah, yaitu sekitar tahun 558 M.

Pendapat Sprenger dikuatkan Sir William Muir. Ibnu Katsir jauh sebelumnya juga telah mengemukakan riwayat bahwa pada Tahun Gajah itu
mulai menjangkit penyakit sejenis campak atau sejenis cacar.

Para ahli banyak tertarik menganalisis ayat demi ayat pada surah al-Fil, khususnya pada tiga ayat terakhir, karena mereka menilai tersirat
sebuah isyarat ilmiah yang cukup penting.

Kata thairan ababil banyak diterjemahkan para mufasir dengan ‘binatang yang berbondong-bondong’. Hanya Muhammad Abduh yang menolak mengartikan al-thair dengan ‘burung’. Ia mengartikannya dengan sejenis serangga atau dewasa ini sering disebut dengan virus.

Virus atau mikroba ini disebarkan melalui angin yang memusnahkan seluruh pasukan gajah Abrahah. Apabila zat tersebut menyentuh anggota badan manusia, langsung mengakibatkan luka-luka yang pada akhirnya menyebabkan hancurnya seluruh badan, yang mengingatkan kita kepada virus antraks.

Segolongan ahli mengartikan sijjil dengan ‘tanah yang terbakar’, ‘batu yang dipahat’. Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa kata sijjil
bermakna ‘tanah keras’.

Ahmad Ramali menegaskan hancurnya pasukan Abrahah sebagai akibat epidemi peracun yang amat ganas, penularannya melalui udara dan selanjutnya memusnahkan seluruh tentara Abrahah.

Berbagai kasus epidemi yang diungkap di dalam Alquran mengisyaratkan kepada kita bahwa penularan virus binatang kepada manusia sudah pernah terjadi di masa lampau. Virus-virus tersebut ada yang lebih mudah diatasi dan ada yang sangat berat.

Virus AIDS, hepatitis, dan sebagainya bukanlah persoalan baru bagi umat manusia, melainkan sudah lama telah diisyaratkan di dalam Alquran. Hanya saja, menarik untuk dikaji bahwa munculnya wabah virus mematikan itu selalu dihubungkan dengan tingkat kedurhakaan manusia. Jika suatu kaum sudah mencapai puncak kezaliman dan kedurhakaan, selalu berhadapan dengan musibah yang di luar kemampuan manusia untuk menangkalnya.

Musibah dalam berbagai bentuk yang menimpa dunia selama ini, di samping membutuhkan pemecahan secara mikro, mungkin memerlukan
sudut pandang lain dalam bentuk lebih holistis dan komprehensif. Apakah manusia masih di atas jalan yang benar dalam menjalankan misi kekhalifahannya di muka bumi atau sudah jauh menyimpang? Kisah Abrahah ini pelajaran berharga bagi umat manusia.

BERITA TERKAIT