04 May 2020, 06:10 WIB

Behave like Adults


Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group | Opini

DI berbagai media internasional mulai muncul berita gembira. Sejumlah negara seperti Denmark, Republik Ceko, dan Jerman berikhtiar melonggarkan sebagian lockdown. Berita lebih gembira di Korea Selatan tak ada kasus baru terpapar korona.

Berita kelam, WHO mengonfirmasikan korona merebak di seantero Afrika. Keadaan sangat memprihatinkan terjadi di Afrika Barat. Tak diketahui berapa banyak persisnya warga terpapar korona. Statistik resmi bilang 34 ribu. Korban ditengarai bakal bertambah banyak akibat buruknya fasilitas kesehatan, terbatasnya jumlah tenaga medis.

Berita yang mengherankan banyak negara ialah kebijakan pemerintah Swedia untuk tidak melakukan lockdown. Mereka menempuh jalan berbeda bukan hanya dengan dunia umumnya, melainkan juga berbeda khususnya dengan negara tetangganya, sesama Skandinavia.

New York Times dan The Guardian mengungkap kontroversi kebijakan Swedia itu, seraya memuat foto warga bercengkerama di sebuah taman, dan warga menikmati kehidupan sosial di kafe. Hidup ini tidak hanya normal, tapi juga indah di mata mereka. Sebaliknya, di mata seorang jurnalis Denmark, “Seperti nonton fi lm horor.”

Horor bila dilihat sejauh ini angka kematian per 1.000 penduduk akibat korona di Swedia, tiga kali lebih banyak angka kematian di Denmark, bahkan enam kali lebih besar angka kematian di Finlandia. Oleh karena itu, kebijakan Swedia itu mengherankan banyak negara, dikritik banyak profesor kesehatan. Apa jawab pemerintah Swedia? Katanya, justru kejutan kalau strategi mereka itu tidak dikritik.

Otak di balik kebijakan Swedia itu ialah kepala epidemiologis negeri itu, Anders Tegnell. Dengarlah penjelasannya kepada koran USA Today (28/4). “Hemat kami 25% orang di Stockholm telah terpapar korona dan mungkin sudah kebal. Sebuah survei yang baru-baru ini kami lakukan di sebuah rumah sakit di Stockholm, 27% staf di sana kebal. Menurut kami, kebanyakan mereka kebal berasal dari transmisi di tengah masyarakat, bukan dari tempat kerja. Kami akan mencapai herd immunity di Stockholm hanya dalam hitungan minggu.” Herd immunity atau imunitas sosial ialah kekebalan yang terbentuk setelah cukup banyak penduduk terserang infeksi.

Swedia membuka sekolah untuk taman kanak-kanak, tapi menutup sekolah lanjutan. Pemerintah mengimbau tidak berkumpul lebih 50 orang. Bagi yang berumur 65 tahun ke atas, terlebih berpenyakit jantung, paru-paru, diabetes, diimbau bekerja di rumah dan yang sakit tinggal di rumah. Semuanya imbauan, bukan perintah, bukan instruksi, bukan larangan, bukan intervensi.

Toko, restoran, tempat gym tetap buka. Warga diminta mematuhi norma jaga jarak. Warga dipercaya, behave like adults, berkelakuan seperti orang dewasa.

Demikianlah substansi pokok kebijakan pemerintah Swedia menghadapi korona ialah kepercayaan kepada publik, kepercayaan kepada warga sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab.

Bandingkanlah dengan kelakuan kita. Editorial harian ini mengingatkan, ‘Dalam menghadapi puncak pandemi ini, jelas dibutuhkan intervensi pemerintah yang lebih besar dan kedisiplinan warga.’ Tanpa intervensi pemerintah, mengandalkan disiplin warga, kiranya negara ini bisa remuk terjangkit korona.

Dipikir lebih dalam tesis kekebalan sosial yang dipraktikkan Swedia mengandung kebenaran. Korona tak punya vaksin, tak pula ada obatnya. Orang tak terpapar bila tubuhnya kebal. Orang sembuh bila kekebalan tubuhnya bangkit. Kenapa negara mesti melakukan lockdown? Bukankah kebijakan itu menutup diri atas timbulnya herd immunity, kekebalan sosial?

Aristoteles mengutip sebuah ungkapan. Bunyinya, ‘Engkau tak dapat menjadi seorang pemerintah jika pertama-tama engkau belum pernah diperintah.’ Pemerintah dan yang diperintah, demikian Aristoteles, memang mempunyai keunggulankeunggulan yang berbeda; tetapi faktanya tetap bahwa warga negara yang baik harus memiliki pengetahuan dan kapasitas yang dibutuhkan untuk memerintah dan juga untuk diperintah. Dalam bahasa yang simpel, keduanya behave like adults.

Dalam pengertian ‘intervensi pemerintah’, yang diperintah belum behave like adults, berkelakuan seperti orang dewasa. Sekalipun yang memerintah pernah diperintah, mereka pun belum behave like adults. Buktinya, mendekati puncak pandemi, yang memerintah tidak konsisten. Ada maskapai penerbangan yang dikecualikan, dengan alasan yang dibuat-buat, dicari-cari.

Korona membuka mata dunia bahwa Swedia satu-satunya negara demokratis yang teruji. Pemerintahnya percaya pada warganya, dan sebaliknya, warganya percaya pada pemerintahnya. Mereka membangun imunitas sosial. Lupakan Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Prancis, terlebih AS.

Kiranya tak perlu heran bila Swedia, pun satu-satunya negara modern yang ekonominya tak terpapar korona.

BERITA TERKAIT