04 May 2020, 04:50 WIB

Heutagogi


Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyakarat Yayasan Sukma Jakarta | Opini

WABAH covid-19, meski membawa derita bagi seantero dunia, ternyata juga menyertakan hikmah. Ada cara kerja dan cara belajar baru. Jika semula harus datang ke kantor dan sekolah, kini WFH, work from home. Semuanya dikerjakan di rumah. Kantor daring, sekolah dan kuliah juga demikian.

Bagi yang belum terbiasa, tentu ini merupakan hari-hari yang ‘menegangkan’. Bukan karena korona, melainkan lebih karena gaptek. Banyak siswa-guru mahasiswa-dosen yang mengeluh tidak segera mampu beradaptasi dengan situasi serbadaring.

Di era teknologi digital dan web 2.0 konteks pembelajaran telah berubah. Belajar tidak lagi berpusat pada guru-dosen. Akuisisi pengetahuan dan keterampilan semakin menjadi tanggung jawab individu. Belajar lebih berpusat pada siswa dan bersifat nonlinear. Kini sebagian besar pembelajaran terjadi melalui berbagi pengetahuan. Adapun peran guru tak ubahnya laksana guide, pemandu wisata pengetahuan.


Heutagogi

Heutagogi ialah studi tentang pembelajaran mandiri, yang menerapkan pendekatan holistik untuk mengembangkan kemampuan peserta didik, dengan menempatkan peserta didik sebagai ‘agen utama dalam pembelajaran mereka sendiri, yang terjadi, sebagai akibat dari pengalaman pribadi’ (Hase dan Kenyon: 2007).

Pendekatan ini diperkenalkan Stewart Hase dan Chris Kenyon pada era 2000-an. Dalam publikasi pertamanya, mereka menggambarkan heutagogi sebagai ekstensi dari andragogi, model pembelajaran orang dewasa yang diperkenalkan Knowles sekitar 1968.

Pada heutagogi pembelajar bertanggung jawab tidak hanya soal apa yang dipelajari, akan tetapi juga cara belajar dan bagaimana mengevaluasinya. Pelajar dapat memutuskan apa yang harus disertakan dalam kurikulum yang fleksibel.

Heutagogi berbeda dari andragogi karena pendekatan ini lebih mendasarkan diri pada penelitian-penelitian neuroscience. Bukti-bukti neuroscience memperkuat gagasan bahwa manusia ternyata memiliki kecenderungan belajar dengan mengunakan eksplorasi, pengujian hipotesis, semua indra, pengalaman, mimikri, refleksi, konteks, dan memori (Agonács dan Matos: 2019).

Pada heutagogi, pelajar didefinisikan sebagai pusat proses belajar mengajar dan menjadi agen aktif dari keseluruhan pengalaman belajar, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pada penilaian (Hase: 2014). Oleh karena itu, heutagogi menjadikan peserta didik sebagai pusat belajar, berbeda dengan pedagogi yang pembelajarannya lebih terpusat pada gurudosen.

Dalam pendekatan ini, tugas pendidik sudah tidak lagi sebagai pengajar, akan tetapi sebagai pendamping atau sahabat belajar. Siemens (2013) mengatakan, “Di masa lalu untuk mendapatkan pengalaman belajar mengajar, orang harus membayar sejumlah uang, mereka harus berada di pusat pengalaman.

Kita membutuhkan sekolah-universitas untuk melakukan banyak mediasi pengetahuan... [Sekarang] siswa-mahasiswa dapat langsung
pergi ke sumbernya, dan mereka tidak perlu sekolah universitas untuk memainkan peran mediasi.” Kemandirian belajar yang didengungkan kementerian pendidikan sudah sesuai dengan semangat zaman.

Namun, heutagogi memerlukan kesiapan, kematangan, dan kemandirian belajar yang lebih tinggi. Dan oleh karena hampir sepenuhnya terpusat pada pelajar, keberhasilan penggunaan heutagogi sangat ditentukan seberapa jauh kesiapan, kematangan atau kemandirian pelajar. Meskipun demikian, suka atau tidak suka, di era digital yang serbadaring ini siapa pun tidak dapat menghindari penggunaan e-learning jika tidak ingin tertinggal di sudut peradaban.

Berkaitan dengan kesiapan pelajar, Canning (2010)  menggambarkannya dalam sebuah segitiga dengan tiga lapis. Lapis pertama paling bawah ialah pedagogi dengan kematangan dan kemandirian siswa paling kecil. Kedua, andragogi dengan level kemadirian lebih besar. Adapun heutagogi memerlukan kematangan dan kemandirian paling tinggi. Dengan kata lain kendali dan arahan desain dari pengajar paling kecil. 

Di antara keuntungan penggunaan heutagogi ialah meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis danreflektif. Memacu keterlibatan dan motivasi mereka. Mendorong pertumbuhan dan pemberdayaan pribadi.

Meningkatkan kemampuan untuk menyelidiki dan mempertanyakan ide-ide serta menerapkan pengetahuan dalam situasi praktis. Mendukung pengembangan ide-ide segar dan percaya diri. Membuat lebih cakap dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.  Membantu mereka mengembangkan keterampilan kerja tim dan manajemen proyek. 


Tahapan implementasi 

Merancang kontrak belajar merupakan langkah pertama dalam menerapkan pendekatan heutagogis. Pada fase ini, siswa dan guru bekerja sama untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar dan hasil yang diharapkan. Di antara pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab adalah; apa yang ingin dipelajari siswa? Hasil apa yang diharapkan dari pengalaman belajar?

Apa tujuan kurikulum spesifik yang dibutuhkan? Kontrak belajar membantu siswa memutuskan apa yang ingin mereka pelajari dan menentukan jalur pembelajaran individual mereka sendiri.

Pendekatan heutagogis hanya mungkin jika kurikulumnya fleksibel dan mempertimbangkan pertanyaan, motivasi, dan pergeseran pemikiran peserta didik sebagai akibat dari apa yang telah mereka pelajari. Siswa harus mampu membuat kurikulum sendiri, yang dapat beradaptasi dengan kebutuhan masingmasing.
 
Siswa mungkin saja diminta untuk membuat perencanaan berdasarkan seperangkat tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, akan tetapi mereka memiliki kebebasan untuk mengidentifikasi apa dan bagaimana mereka belajar. 

Penilaian merupakan bagian penting dari semua pendekatan instruksional, termasuk heutagogi. Namun, dalam pendekatan ini, siswa merancang sendiri penilaian belajarnya. Bukan menjalani tes standar. Hal demikan justru menghadirkan lingkungan yang lebih nyaman, tidak menakutkan, dan dapat mendorong pembelajaran yang lebih mendalam.

Desain penilaian siswa, termasuk cara untuk mengukur pemahaman konten dan keterampilan yang telah diperoleh, ditentukan sendiri oleh siswa. Pada akhir proses siswa akan ditanya apakah hasil yang telah disepakati tercapai.

Karena sifatnya yang independen, belajar secara heutagogis dapat menyebabkan konflik batin pada siswa, terutama jika belum terbiasa mengambil tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri. Namun, setelah siswa memiliki rasa percaya diri untuk belajar mandiri, hanya sedikit yang ingin kembali ke kurikulum lama dengan struktur kaku. Heutagogi memfasilitasi siswa untuk dapat bekerja sama dan berbagi pengetahuan, merefleksikan kemajuan. Siswa belajar satu sama lain, dan berpikir bagaimana dapat menerapkan keterampilan barunya itu dalam praktik.

Heutagogi sebagai strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa, yang menekankan pengembangan otonomi, kapasitas, dan kapabilitas, mendorong implementasi belajar sepanjang hayat. Dengan heutagogi, peserta didik yang benar-benar siap memasuki kompleksitas dunia kerja diharapkan dapat dihasilkan.

Masa depan yang semakin rumit dan komplek memerlukan pribadi-pribadi tangguh yang siap menghadapi dinamika perubahan secara mandiri.

BERITA TERKAIT