04 May 2020, 06:05 WIB

Masa Pandemi Ganggu Bonus Demografi


Atalya Puspa | Humaniora

PENURUNAN angka partisipasi program keluarga berencana (KB) selama masa pandemi covid-19 akan berpengaruh buruk pada capaian bonus demografi. Kondisi ini perlu segera diantisipasi pemerintah.

“Jika kondisi ini berjalan cukup lama, angka kelahiran akan meningkat dan pada akhirnya akan mengganggu pencapaian bonus demografi,” kata Pakar Migrasi dan Kependudukan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sukamdi, dalam menanggapi kecenderungan penurunan partisipasi KB selama masa pandemi covid-19 yang telah berlangsung sekitar 2 bulan.

Di satu sisi, meningkatnya angka kelahiran, menurut Sukamdi, berpotensi memperbanyak penduduk nonproduktif (<15 th) dan akan memperbesar angka ketergantungan. “Meskipun mungkin hal ini tidak terjadi secara seragam di seluruh wilayah,” imbuhnya.

Sukamdi menilai permasalahan KB di masa pandemi datang dari berbagai sisi, dari supply hingga demand.

“Dari sisi supply, pemerintah masih berkonsentrasi dengan masalah pandemi ini sehingga KB agak terabaikan, baik di pusat maupun daerah. Akibatnya, pelayanan tidak bisa optimal,” ujarnya. Pada sisi demand, masyarakat mengalami penurunan dalam mengakses pelayanan KB, baik fisik maupun ekonomi.

Ketua Dewan Pengurus Indonesian Health Economics Association, Hasbullah Thabrany, menilai masa phisycal distancing merupakan momen yang bisa dimanfaatkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menggencarkan sosialisasi terkait pentingnya program KB di media massa. “Kalau masyarakat tidak diingat­kan pada 8 sampai 9 bulan ke depan, angka kelahiran akan melonjak,” kata Hasbullah.

Untuk diketahui, BKKBN menyebut rata-rata penggunaan alat kontrasepsi dari Februari hingga Maret 2020 menurun sebanyak 40%. Terdapat pula penurunan peserta KB pada Maret jika dibandingkan dengan di Februari 2020 di seluruh wilayah Tanah Air.

Kontrasepsi

Kekhawatiran menurunnya partisipasi program KB di masa pandemi covid-19 mendapat pembenaran dari pelbagai daerah. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Tasikmalaya, Yuyun Darmawan, mengakui tahun ini terjadi peningkatan jumlah perempuan positif hamil. Pada Januari hingga Maret mencapai 105% atau 3.219 orang.

Yuyun menambahkan bahwa meningkatnya kehamilan lebih banyak disebabkan para ibu muda tersebut melepaskan alat kontrasepsi.

Untuk membendung tingginya angka kehamilan, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, be­kerja sama dengan dinas pengendalian penduduk, keluarga berencana, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak setempat. Kerja sama menyangkut dukungan pencapaian pelayanan metode kontrasepsi jangka panjang selama pandemi covid-19.

Ketua PC IBI Kabupaten Cianjur, Liste Zulhijwati Wulan, meyakini capaian kerja sama saat berlangsungnya pandemi covid-19 bisa meminimalkan masalah pengendalian penduduk. (AD/BB/H-1)

BERITA TERKAIT