04 May 2020, 05:20 WIB

Melawan Amal Ria


Ferdian Ananda Majni | Ramadan

ERA digitalisasi yang pesat saat ini memberikan kemudahan, termasuk saat melakukan kebaikan. Kabar itu bisa viral dalam sekejap hingga menimbulkan prokontra di masyarakat.

Sebagian menganggap bahwa sebuah ibadah atau kebaikan tidak perlu dibagi atau pamer di media sosial. Hal itu mendasari sifat manusiawi yang akan menimbulkan ria. Di sisi lain, memotivasi atau mengajak kebaikan ialah satu contoh yang patut disebarluaskan.

Dalam siaran Virtual Madrasah Ramadhan dan Hijrah Fest, pekan lalu, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, mengatakan ketulusan di dalam berniat itu akan ada arti jika memang sudah diamalkan. “Artinya berbuatlah baik dulu,” kata Buya Yahya.

Setelah berbuat kebaikan, kemudian jika di dalamnya harus diketahui orang atau viral dan lain sebagainya, apakah itu akan dilarang? Buya menjelaskan, itu bukan dilarang, melainkan memang berat apalagi dikhawatirkan akan merusak niat hati.

Namun, sambung Buya, ada obat yang diajarkan Imam Al-Ghazali, filsuf dan teolog muslim asal Persia. Penulis kitab Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama) itu justru menyarankan untuk menyerukan amal baik itu dengan lantang hingga viral, atau bahkan diketahui banyak orang.

“Itu tidak jadi masalah. Tetapi ada pekerjaan yang tidak Anda suarakan dengan lantang, itu (bisa) mengimbangi. Jadi ibaratnya begini, kalau Anda bersedekah punya misi untuk memberikan contoh kepada orang lain, enggak usah khawatir,” seru Buya.

Cara ini juga yang dilakukan khalifah Ali bin Abi Thalib. Keponakan yang juga menantu Rasulullah SAW itu berbuat baik dengan empat cara, ada yang dikerjakan siang hari dan malam hari, ada yang sembunyi, dan ada yang terang-terangan.

Buya mencontohkan, jika seseorang ingin bersedekah Rp100 juta dan mengumumkan itu ke khalayak, itu tidak jadi masalah. Namun, setelah itu kejar ketulusan dengan melakukan yang serupa dan tersembunyi.

“Jadi misalnya, saya sedekah di depan ribuan orang. Hawa nafsuku (berkata) kau senang ya bersedekah Rp10 juta dilihat orang. (Tapi,  secara bersamaan) ketahuilah ada Rp10 juta lebih yang aku sedekahkah, tetapi tidak ada orang lain yang mengetahuinya,” paparnya.

Tetap lurus

Yang berbahaya, ketika orang mengekspos saja tapi tidak melakukan kebaikan sembunyi, maka itu masuk wilayah ria. Bahaya juga ketika ada orang menyitir hadis Nabi, padahal sebenarnya dia pelit.

“Apabila tangan kanan bersedekah, tangan kirinya tidak tahu itu paling disenangi orang pelit sehingga setiap kali diajak sedekah alasannya takut ria,” lanjutnya.

Buya pun mengingatkan agar kita tidak berhenti melakukan kebaikan sebab meninggalkan amal karena takut ria tentunya itu hakikat ria. Berbuatlah meskipun dilihat orang tidak ada masalah, diekspos atau memberikan informasi dan sebagainya maka lakukan.

Jangan lupa terus berdoa agar niat yang sudah baik itu akan tetap dijaga, tetap lurus, dan dilindungi dari godaan setan terkutuk.

“Mau ke masjid, alasannya apa enggak jadi kenapa karena banyak perempuan di sana daripada saya berdosa. Itu salah. Pergi ke masjid, lalu pejamkan matamu, lalu dapat dua pahala. Jangan beralasan mau berbuat baik, berbagi beralasan itulah kerjaan setan, menghentikan kita berbuat baik atau membelokkan dari niat yang baik,” pungkasnya. (H-2)

BERITA TERKAIT