03 May 2020, 17:35 WIB

Jalur Tikus dari Jateng - Jatim Ramai Pemudik


Akhmad Safuan | Nusantara

MESKIPUN ada larangan mudik, namun ratusan pemudik masih tetap masuk ke Blora, Jawa Tengah (Jateng) dan sebaliknya ke Jawa Timur (Jatim). Mereka melalui jalur tikus  dan dalam sehari ratusan jiwa berhasil masuk.

Pemantauan Media Indonesia Minggu (3/5) ratusan pemudik dalam sehari berhasil memasuki Kabupaten Blora, Jateng melalui jalur tikus yang dirasakan lebih aman untuk lolos, karena jalur utama dilakukan pemeriksaan ketat di setiap gerbang perbatasan menuju daerah itu terutama dari Provinsi Jatim.

Selain jalur darat di Desa Getas, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, warga yang rara-rata mudik dari daerah Magetan, Ngawi (Jatim) dan Solo Raya, ada jalur lain yang menjadi lintasan pemudik menghindari jalur konvensional yakni melalui penyeberangan sungai Bengawan Solo terurana dari Bojonegoro (Jatim).

Menghindari pemeriksasn ketat dilakukan di jalur utama di Cepu, Blora, pemudik dari Hawa Timur nelalui Kabupaten Bojonegoro memilih jalur menyeberangi Sungai Bengawan Solo menggunakan perahu yakni dari Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, Jawa Timur ke Desa Medalem Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Perahu khusus penyeberangan dua provinsi ini setiap hari hanya melayani rute yang tetap mampu mengangkut 28 motor dan 40 orang dalam satu kali angkut, bahkan jalur ini dipandang lebih efektif karena menghemat jarak tempuh sekitar 30 kilometer jika melalui jalur konvensional Bojonegoro-Cepu.

Sejak pagi baik dengan halan kaki maupun menggunakan ratusan kendaraan roda dua, pemudik secara bergantian menaiki perahu yang ditarik menggunakan tali tambang membentang di Bengawan Solo dan setelah mendarat melanjutkan kembali ke kampubg halaman melalui jalur-jalur alternatif.

"Selain lebih jauh melalui jalur utama pasti banyak dicegat dan diperiksa ketat, terapi melalui jalur ini lebih aman dari pereriksaan," kata Wahyono,34, salah seorang pemudik tujuan Grobogan.

Hal serupa juga diungkapkan Fahmi,45, pemudik dari Ngawi tujuan Blora Kota bersama istri dan dua anaknya, sengaja memilih jalur ini karena lebih aman meskipun harus memutar ke Bojonegoro terlebih dahulu.

"Saya berangkat subuh dari Ngawi dengan sepeda moto, nanti sore sudah sampai rumah orang tua di Blora," ungkapnya.

Wakil Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 HM Dasum mengungkapkan jumlah pemudik masuk ke Blora berdasarkan data diterima telah mencapai 28.695 orang sejak pandemik korona ini terjadi.

"Dalam sehari ini saja data yang masuk ada 226 pemudik lagi masuk Blora, meskipun larangan mudik telah dikeluarkan," kata Dasum yang juga Ketua DPRD
Kabupaten Blora.

Dengan banyaknya jumlah pemudik yang masuk, demikian Dasum, dalam proses penanganan covid-19 menhadi cukup berat, bahkan saat ini sudah ada empat warga positif korona dan diantaranta pemudik yang dilakukan rapid test ada 12 orang reaktif korona dan masih menunggu hadil test swab.

Para pemudik langsung lakukan isolasi mandiri, ujar Dasum, tetapi mereka yang berstatus padien dalam pengawasan (PDP) untuk sementara dikarantina sembari melakujan proses pengobatan. "Sekali lagi saya minta jangan mudik demi keluarga dan teman di kampung,"  imbuhnta  (OL-13)
 

 

BERITA TERKAIT