03 May 2020, 15:10 WIB

Waspada Ancaman Teroris Saat Pandemi


Tri Subarkah | Politik dan Hukum

ANCAMAN terorisme tidak mengenal waktu. Tidak terkecuali dalam pandemi covid-19. Hal tersebut disampaikan oleh pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridwan Habib.

"Beda dengan (pegawai) kantor yang mungkin bekerja dari rumah. Mereka (teroris) terus berpikir bagaimana merekrut orang baru, memikirkan serangan-serangan baru sesuai perintah pimpinan mereka," kata Ridwan kepada Media Indonesia, Minggu (3/5).

Diketahui selama akhir bulan April kemarin, Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap para terduga terois di berbagai daerah, mulai dari Sidoarjo, Surabaya, hingga Serang.

Ridwan menyebut ada tiga sikap kelompok teroris selama pandemi covid-19. Kelompok pertama memahami bahwa covid-19 tidak mengenal calon korbannya. Oleh sebab itu, mereka cenderung tidak melancarkan aksinya.

"Kelompok ini menganggap mereka lebih baik mengamankan diri dulu, dengan artian mereka menjaga kesehatan dan sebagainya, artinya mereka tidak beraksi," ujar Ridwan.

Kelompok kedua, sambungnya, menganggap pandemi covid-19 sebagai cobaan dari tuhan. Menurut Ridwan, mereka menggunakan kesempatan tersebut untuk merekrut kader-kader baru melalui daring. Selain itu, kelompok ini juga memanfaatkan situasi covid-19 untuk mendidik kader yang sudah direkrut sebelumnya.

Sementara itu, kelompok ketiga meyakini bahwa pandemi covid-19 merupakan momentum untuk melakukan serangan terorisme. Hal tersebut dipilih karena menganggap aparat kepolisian sedang fokus menjalankan tugas yang berkaitan dengan covid-19.

"Bagi kelompok yang ketiga, mereka berpendapat ya sekarang ini saatnya kalau kita mau menyerang objek vital, mau mengebom kedutaan, membunuh polisi, ataupun cara-cara yang lain," terang Ridwan.

Baca juga :Kompolnas Tak Soalkan Boy Rafli Jadi Kepala BNPT

"Bahkan mereka juga mulai memikirkan bagaimana caranya menyerang perusahaan-perusahaan yang banyak orang Chinanya," tandasnya.

Informasi yang salah mengenai asal-usul covid-19 menjadi pemicu mereka untuk menyerang perusahaan-perusahaan milik China. Selain itu, Ridwan mengatakan ada kelompok teroris yang berpikir menggunakan covid-19 itu sendiri untuk menyerang.

"Artinya mereka mencari anggota atau kader yang kena virus korona. Tentu dengan gejala-gejala yang tidak berat. Lalu mereka menugaskan untuk melakukan serangan itu ke orang-orang lain ataupun ke pihak pemerintah. Rencana-rencana sepertu ini yang sedang dibongkar oleh polisi," paparnya.

Sebelumnya pada Kamis (23/4) kemarin, Densus 88 juga menangkap seorang berinisial AH di Surabaya. AH diketahui merupakan residivis yang telah menjalani masa hukuman di LP Madura. Tiga hari berikutnya, giliran MH, salah seorang terduga teroris yang ditangkap di Sidoarjo.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adisaputra menyebut MH berprofesi sebagai pegawai swasta. Saat ditangkap, polisi menyita barang bukti berupa ponsel, buku catatan dan tiga buku lainnya.

Sedangkan pada Senin (27/4), tiga terduga teroris di Serang, Banten juga ditangkap. Ketiganya berinisial HS, AMA, dan Z.

Pelaku yang telah ditangkap diduga bergabung dengan jaringan Jemaah Ansharut Daulah. Ridwan mengatakan di antara ketiga sikap kelompok yang telah dipaparkannya, JAD cenderung memiliki sikap yang ketiga.

"Mereka mengganggap situasi korona ini efektif untuk melakukan serangan. Tentunya intelijen Densus 88 punya jejaring, punya info dalam jaringan, sehingga indikasi sekecil apapun,mereka nggak mau ambil risiko," pungkas Ridwan. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT