03 May 2020, 08:10 WIB

Alquran, Rahmat bagi Manusia


Quraish Shihab | Ramadan

TAFSIR Al Mishbah episode ke-10 membahas petunjuk dari Allah yang datang dalam berbagai bentuk, salah satunya Alquran. “Alquran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini,” demikian bunyi Surah Al Jatsiyah ayat 20.

Alquran merupakan petunjuk untuk akal dan hati. Karena itu, tidak ada satu pun hal dalam Alquran yang bertentangan dengan akal. Apabila dirasa bertentangan, itu merupakan kesalahan akal dalam memahami atau meyakininya.

Selanjutnya, pada ayat 21 Allah berfi rman bahwa orang yang melakukan kebaikan dan keburukan akan berbeda di mata Allah. “Apakah orang-orang yang membuat dosa itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.”

Amal saleh yang dimaksud ialah penggunaan daya yang diberikan Allah. Apabila hidup dengan semangat dan menggunakan dayanya sesuai dengan nilai-nilai yang ditetapkan, itu berarti dia beramal saleh.

Kemudian, pada ayat 22, lagilagi dikatakan bahwa Allah merupakan pencipta segala. “Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiaptiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.”

Manusia akan memperoleh balasan dari apa yang dilakukannya. Namun, apabila kita melakukan satu hal secara tidak sengaja, itu tidak dimintai tanggung jawab.

Pada ayat 24 ditegaskan bahwa manusia memiliki hawa nafsu. Allah mengatakan bahwa jangan berusaha menghilangkan hawa nafsu tersebut, melainkan mengendalikannya, dan jangan menuhankan hawa nafsu. Barang siapa yang yang mengikuti hawa nafsu dan menuhankannya, Allah akan membiarkannya sesat. “Dan mereka berkata, ‘kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita, selain masa’. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

Soal kematian dan kehidupan, manusia hanya bisa menduga-duga karena semua berjalan sesuai dengan kehendak dan kuasa Allah. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan: Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

Apabila manusia tidak percaya pada hari kiamat, mereka akan merugi. Sebaliknya, mereka yang percaya pada hari kiamat akan mendapatkan keuntungan. Pasalnya, dijelaskan pada ayat berikutnya bahwa kekuasaan Allah di dunia memang tidak kentara. Namun, di akhirat, kekuasaan Allah akan terlihat jelas dan manusia tidak lagi memiliki daya.

Dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin disamakan antara perbuatan baik dan jahat, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Selanjutnya, Allah mengecam orang yang menuhankan hawa nafsunya. Kita tidak boleh juga membunuhnya, tapi kita harus kendalikan.

Terakhir, hidup di dunia ini ialah kuasa Allah. Di hari kematian, merugilah orangorang yang tidak percaya akan kuasa Allah. (Ata/H-3)

BERITA TERKAIT