03 May 2020, 07:50 WIB

Mengubah Perspektif Menjalani Ramadan


IHFA FIRDAUSYA | Ramadan

RAMADAN tahun ini memang dijalani umat muslim dengan kondisi yang berbeda dalam pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah wilayah di tengah pandemi covid-19. Namun, esensi Ramadan sebagai bulan penuh rahmat tidak akan berubah. Justru ketika perspektif yang esensial itu tertanam dalam diri kita, tidak ada kebahagiaan yang hilang meskipun Ramadan dijalani dalam situasi pandemi.

Hal itu menjadi pembahasan dalam acara tausiah Ramadan oleh Ustaz Pangeran Arsyad yang juga Wasekjen Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia dalam tausiah yang dilakukan secara daring, Jumat (1/5), melalui kanal Youtube Rabu Hijrah. Tausiah tersebut mengambil tema Tetap produktif di Ramadan saat PSBB.

Saat mengawali tausiah, Ustaz Pangeran menganalogikan anak kecil zaman sekarang yang terbiasa dengan gawai. Gawai ialah kebahagiaan yang sudah tertanam di kepala mereka. “Andai kita cabut kebahagiaan atau gawainya itu pasti dia akan sedih. Dia merasa sumber kebahagiaannya dicabut,” jelasnya.

Ustaz lalu menceritakan kisah seorang anak di zaman sahabat dulu. Seorang anak yang kelak menjadi imam besar, Syekh Nawawi dari Syiria. Alkisah, ketika 10 tahun, kebahagiaan beliau ialah membaca Alquran.

Suatu ketika Syekh Nawawi kecil ditariktarik untuk diajak bermain. “Ketika Imam Nawawi dipaksa untuk bermain dia tidak mau dan menangis karena dia tidak mau dipisahkan dari kegiatan membaca Alquran,” kisah ustaz.

Dari perbandingan itu, ujarnya, kita bisa melihat bahwa jika kita mensyaratkan kesenangan dari hal-hal yang sudah kita syaratkan A, B, dan C, dan ketika hal-hal itu tidak ada, kita akan sedih. “Namun, kalau kita coba ubah perspektif kita bahwa kesenangan bukan melulu tentang hal itu, keadaan seperti apa pun kita bisa enjoy,” kata ustaz Pangeran.

“Maka dalam menghadapi PSBB ini, pertama kita harus perbaiki dulu perspektif kita. Kalau kita merasa pusing, sedih, dan gundah gulana karena kita telah menetapkan kebahagiaan- kebahagiaan pada beberapa aspek,” imbuhnya.

Di sisi lain, ustaz mengajak kita mempertanyakan ketika Ramadan dalam situasi sekarang membuat kita sedih. “Sebenarnya karena tidak ada Ramadannya atau sedih hal-hal bersifat duniawinya? Orang kan datang Ramadan itu bergembira karena intinya ia bulan mulia, amal ibadah dilipatgandakan, sekarang ketika PSBB, hal itu dicabut enggak? Tidak,” tegasnya.

“Yang enggak ada bukbernya, yang enggak ada hal-hak yang bersifat seremonial. Maka sebenarnya PSBB tidak mengubah Ramadan kita ketika kita bisa mengondisikan diri kita,” jelasnya. Justru, lanjutnya, Ramadan dalam situasi PSBB ini bisa membuat kita semakin intim dengan Allah SWT.

“Untuk berinteraksi dengan Allah kita tidak perlu jemaah, untuk bersama-sama, tetapi kita bisa langsung mendekatkan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT,” tutur Ustaz Pangeran. Misalnya, ketika salat tarawih, sujud kita harus mengikuti imam, saat dilakukan sendiri kita bisa sujud lebih lama, berkomunikasi dengan Allah. Dengan mengubah perspektif, justru kualitas ibadah kita kepada Allah bisa semakin meningkat. (H-3)

BERITA TERKAIT