03 May 2020, 06:00 WIB

Bersiasat Hadapi Pandemi


Rahmatul Fajri | Politik dan Hukum

KEGIATAN Marjukih berubah sejak penundaan kompetisi sepak bola nasional akibat pandemi covid-19. Wasit Liga 2 itu tidak punya pilihan lain, kecuali ikut terjun dalam usaha yang semula dijalankan istrinya sejak setahun yang lalu.

“Saya menjual es buah dan es kelapa. Yang penting halal dan yang utama biar ada pemasukan. Sekarang juga tidak ada kegiatan wasit, yang honornya dihitung per pertandingan,” kata Marjukih ketika dihubungi, kemarin.

Ayah dua anak itu membuka la paknya sejak sore hari di tepi Jalan Tanjung Pura, Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat. Es buah dan es kelapa dia jual Rp5 ribu per porsinya untuk orang yang hendak berbuka puasa.

“Kompetisi lagi libur, jadi alih profesi dulu,” kata Marjukih.

Alih profesi juga dilakukan Kukuh Prasetya, 27. Sedianya aktor yang baru tiba dari Yogyakarta itu akan syuting salah satu acara televisi yang dijadwalkan akan tayang pada bulan Puasa. Namun, Kukuh memilih tidak pulang karena takut membawa penyakit kepada orangtuanya yang berada di Madiun, Jawa Timur.

“Saya memilih untuk tidak pulang karena saya takut malah membawa penyakit. Yang saya takutkan ibu saya yang punya penyakit bawaan,’’ katanya.

Demi bisa bertahan hidup di Jakarta, Kukuh memilih menjual kopi secara daring. Ide menjual kopi keluar dalam benaknya karena sebelumnya pernah usaha kopi di Yogyakarta.

Kopi buatannya yang bernama Kopi Pulang Kampung pun telah mulai beredar di Jakarta sejak awal Ramadan. “Ini ialah hal menarik dan menantang bagi saya di tengah korona,” ucap Kukuh.

Sementara itu, tukang cukur di Kabupaten Garut, Jawa Barat, berinovasi dengan membuka layanan datang ke rumah. Itu dilakukan karena banyaknya warga yang bertahan di rumah sesuai anjuran pemerintah.

“Layanan cukur home service ini tidak berbeda jauh, hanya saya datang ke rumah pelanggan,” kata Fikri, 26, tukang cukur asal Banyuresmi, Garut, Jumat (1/5).

Gantikan orangtua

Eren Mika, pemegang ijazah D-4 dari sebuah universitas di Kota Malang, Jawa Timur, juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Eren menggantikan posisi orangtua di Pasar Danga Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

“Sudah sejak sebulan saya bantu dan jaga orangtua saat wabah covid-19. Saya tidak malu meski saya D-4 kebidanan. Ini ada uang halal dan setiap hari saya bisa pegang uang,” jelasnya.

Dia mengakui kerap membantu orangtuanya berjualan di pasar di masa bersekolah ataupun saat liburan kuliah. Seiring dengan pan demi virus korona, dia praktis menggantikan posisi orangtuanya. Pasalnya, tidak ada pekerjaan sesuai bidang ilmunya lagi di Kota Mbay.

“Saya tidak malu jualan begini. Uang hasil berjualan juga kadang membantu orangtua untuk membayar orang yang bekerja di sawah,” ungkapnya.

Alih profesi juga dilakukan Andi Efendi, 32, guru honorer di Kabupaten Lampung Barat. Sejak pandemi covid-19, Andi kehilangan sebagian
besar penghasilannya. Aktivitas mengajar di sekolah sementara dihentikan dan les privat pun tidak lagi berjalan.

Dengan dibantu sang istri, Andi mencari tambahan penghasilan dengan menjual cilok yang ia buat sendiri. Dari cilok yang ia jajakan secara online kepada rekan-rekannya, Andi bisa meraup laba Rp100 ribu per hari. “Kalau lagi ramai, bisa Rp100 ribu se hari. Namanya dagang enggak selalu ada yang beli, tetapi optimistis aja pasti ada rezekinya selama mau ber usaha,” kata sarjana pendidikan itu.

Hamsah, 29, pedagang suvenir di Makassar, Sulawesi Selatan, juga terpaksa beralih menjadi pedagang masker musiman.

“Saya tidak bisa jualan suvenir lagi, pembayaran cicilan tetap jalan, sementara saya tidak dapat bantuan pula dari pemerintah. Saya juga tidak boleh berdiam karena kita harus tetap jalan,” lanjut Hamsah tetap semangat. (Ykb/IK/EP/LN/Ant/X-10)

BERITA TERKAIT