03 May 2020, 03:25 WIB

Mengais Rejeki di Batas Kota Kala Korona Melanda


Lina Herlina | Nusantara

HAMPIR sepanjang jalan di Kota Makassar hingga Perbatasan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan banyak dijumpai penjual masker. Penjual masker tersebut bermunculan bersamaan dengan pandemi virus korona (Covid-19). Tingginya karena ada kewajiban menggunakan masker untuk mencegah penularan Covid-19, membuat banyak pedagang yang beralih menjual masker.
 
Hamsah, 29 tahun, warga Makassar, salah satu. Sebelumnya, Hamsah,  yang berjualan masker di perbatasan Makassar menuju Kabupaten Maros,  menjual suvenir jika ada kegiatan besar yang dihelat organisasi besar atau pemerintah.

"Sekarang tidak ada lagi event. Tidak boleh ada pertemuan dan kegiatan besar. Kalau saya berdiam diri, saya makan apa," jelas Hamsah yang berdagang masker tidak jauh dari Simpang Lima Mandai menuju Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Ia mengaku terpaksa tidak mengindahkan imbauan pemerintahan untuk tetap di rumah saja. Dirinya harus mencari akal untuk tetap bisa membayar cicilan utang yang dia ambil sebagai modal berdagang suvenir sebelumnya.

"Saya tidak bisa jualan suvenir lagi, pembayaran cicilan tetap jalan. Sementara saya tidak dapat bantuan pula dari pemerintah. Saya tidak boleh berdiam, karena kita harus tetap jalan," lanjut Hamsah bersemangat.

Dalam satu hari, Hamsah bisa menjual antara 30 hingga 40 masker. Dari jumlah tersebut dia bisa mendapat keuntungan sekitar Rp100 ribu.

"Itu hanya cukup untuk biaya hidup sehari dengan satu anak dan istri. Sebenarnya itu belum cukup buat bayar kredit. Saya masih terus berusaha cari kerja tambahan yang penting halal," jelasnya Hamsah.

Ia mengaku sejak pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Makassar, kebutuhan masker terus meningkat. Banyak pengguna jalan yang melintas dari daerah ke Makassar, sengaja singgah beli masker yang dijual.

"Alhamdulillah, sejak PSBB di Makassar, pembeli semakin banyak. Rata rata kendaraan dari daerah singgah beli sebelum masuk Makassar. Karena mereka akan diperiksa di perbatasan dan diwajibkan pakai masker. Makanya saya juga jualnya model dan corak maskernya variatif," ucap Hamsah.

Ia berharap, kondisi bisa kembali normal seperti dulu kala, agar pekerjaannya dulu bisa ia lanjutkan karena menjual masker hanya musiman. "Mudah-mudahan korona cepat pergi saja dan hidup bisa cepat kembali normal," tutupnya. (R-1)

BERITA TERKAIT