03 May 2020, 01:10 WIB

Kemenaker Alihkan Rp3,1 T untuk Pekerja Terdampak Virus Korona


Depi Gunawan | Ekonomi

WABAH korona (Covid-19) memukul keras berbagai sektor usaha sehingga banyak pekerja terpaksa dirumahkan, hingga diputus hubungan kerja atau PHK. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan sudah ada sekiar 3 juta lebih pekerja yang terkena dampak akibat pandemi ini.

"Yang terdata by name, by address, kemudian datanya rapi itu ada 1,7 juta. kemudian 1,2 juta lagi masih dalam proses validasi data," kata Menteri Tenaga Kerja RI, Ida Fauziyah ketika menghadiri pembukaan Pelatihan Tanggap Covid-19 di Balai Latihan Kerja (BLK) Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (2/5).

Ida menerangkan, bagi 1,2 juta orang yang masih dalam proses validasi, akan diberikan pelatihan dan keterampilan yang difokuskan pada penanganan Covid-19. Salah satunya pelatihan bidang katering dan makanan yang diselenggarakan di BLK Lembang.

"Di sini pesertanya adalah pekerja yang menjadi korban PHK, pekerja yang dirumahkan atau masyarakat luas yang terdampak. Selain di Lembang, di BLK lainnya juga mengadakan pelatihan berbeda berupa pembuatan alat pelindung diri (APD) seperti masker, hand sanitizer, disinfektan, hingga peti jenazah untuk pasien Covid-19," ucapnya.

Ida menyebutkan, mereka yang menerima pelatihan di BLK adalah mereka yang belum terakomodasi di kartu prakerja. Saat ini, total ada sekitar 216 ribu orang telah ikut serta pelatihan yang diselenggarakan di seluruh Indonesia.

"Jadi programnya tidak hanya model pelatihan, ada juga padat karya produktif, padat karya infrastruktur, tenaga kerja mandiri, kemudian teknologi tepat guna. Kita ingin berikan kesempatan kepada teman-teman yang di-PHK, dirumahkan, yang belum terakomodasi di dalam kartu prakerja bergabung di BLK," bebernya.

Mengenai total biaya, Ida menyatakan, pihaknya menganggarkan Rp3,1 triliun yang berasal dari refocusing anggaran Kementerian Ketenagakerjaan. Selama 10 hari mengikuti pelatihan, para peserta bakal menerima insentif sebesar Rp500 ribu.

"Biasanya kalau kondisinya normal, peserta pelatihan tidak diberikan insentif. Tapi kami refocusing anggaran, sisihkan biaya perjalanan dinas untuk insentif bagi peserta pelatihan," sebutnya.

Ida menambahkan, sejauh ini pekerja yang paling banyak terdampak Covid-19 berasal dari sektor pariwisata dan turunannya. Seperti diketahui, semua usaha pariwisata telah menutup kunjungan selama sebulan lebih demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. (R-1)

BERITA TERKAIT