03 May 2020, 06:10 WIB

1997


Uum G Karyanto | Weekend

Kabar kematiannya cepat menyebar. Tak ubahnya wabah sampar. Seisi desa langsung gempar.

Hari itu, bubar kalangan, Karé, si pedagang kain, tidak langsung pulang. Katanya, ada urusan dagang yang harus diselesaikan. Menjelang asar, urusannya selesai. Karena tidak ada kendaraan apa pun yang melintas di jalan, Karé terpaksa pulang berjalan kaki, menempuh jarak kira-kira lima kilo.

Ketika melewati portal desa, di kilometer pertama, langkah kakinya terhenti sendiri. Ada yang dirasakannya tidak biasa. Benaknya mempertanyakan ketiadaan seseorang. Biasanya orang itu duduk menekur atau bersandar di tiang portal. Mata Karé liar mencari-cari. Tangannya meraba saku pentalonnya, dan menemukan bungkus rokok keretek yang masih berisi beberapa batang. Cukup untuk diberikan kepada lelaki itu, pikirnya. Beberapa saat ia mengernyitkan kening. Tetapi, kumandang azan dari kejauhan membuyarkan pikirannya. Dia memutuskan akan menunaikan salat Asar di batu dampar.

Tiba di hadapan pancuran bambu yang tidak jauh dari batu dampar, Karé langsung menyingsingkan lengan kemeja dan ujung pentalon untuk berwudu. Kesegaran meruap ketika ia membasuh kedua telapak tangannya. Lalu ditadahinya air untuk dikumurkan ke mulutnya. Pada saat itulah ia terkesiap. Gerakan tangannya berhenti seketika. Jantungnya berdegup kencang. Betapa tidak, kira-kira selunjuran bambu di hadapannya, sepasang mata membeliak seperti hendak menelannya bulat-bulat; mata dari sebatang tubuh manusia yang membujur kaku, menelungkup memeluk pematang dengan leher seperti berderak dipaksa mengarah kepadanya. Karé bergidik ngeri melihat mulut si mayat menganga, membiru, dan berbusa ungu. ”Astaghfirullah, Lantra!” pekiknya.

Bersandar pada cerita Karé, orang-orang menyimpulkan Lantra mati sebab memakan remah nasi yang telah dilumuri tube. Tube biasa dipasang orang untuk membunuh babi hutan yang acap kali turun dari hutan perbukitan dan mengganyang tanaman.

*

Setengah masa hidup memang dilalui Lantra dalam ketidaksadaran. Orang-orang mengatakannya, ya, ... “gila”. Meski demikian, bagi sebagian orang, nyatanya dalam “gila”-nya itu dia ada manfaatnya juga. Dengan sepincuk nasi, secangkir kopi, dan sebungkus rokok murahan, dia bersedia disuruh ini-itu. Membalik-balik jemuran padi, biji-biji kopi, kulit kayu manis, atau cacahan daun nilam adalah ”orderan” yang sering diterimanya. Ada kalanya juga, membersihkan siring depan rumah yang mampat oleh timbunan sampah atau endapan pasir yang tergerus aliran air dari hulu, atau apa saja.

Hanya saja, ada satu hal yang begitu kukuh dipertahankan Lantra: kesetiaannya kepada matahari. Semenarik apa pun ajakan bermain dari anak-anak; sebesar apa pun upah yang diiming-imingkan di ujung hidungnya; sekeras apa pun orang menahannya, akan dia tampik—jika perlu dengan memberontak—apabila matahari telah mengisyaratkan petang.

Ada semacam kekuatan gaib memanggil-manggil dan menghelanya untuk segera bergegas ke portal desa; duduk menekur di sana; dan beranjak pulang—ke mana pun dia ingin pulang—ketika langit senja mengisyaratkan malam. Pertemuan dengan portal desa, atau ”sesuatu” yang baginya ”ada” di sana, di bawah temaram senja, seolah pertemuan sakral yang tak sekali-kali hendak diabaikannya.

*

Masih likat dalam ingatan Suradi bagaimana peristiwa demi peristiwa berdarah itu terjadi di dusunnya, Dusun T, di Kecamatan W, wilayah L. Enam Februari 1989, dia melihat serombongan aparat keamanan dari Koramil, didampingi unsur Muspika, mendatangi dusunnya. Kedatangan mereka, menurut cerita yang dia dengar, untuk “mencari keterangan” tentang isu pergerakan radikal yang meresahkan masyarakat. Namun, entah bagaimana asal-mulanya, pengikut pergerakan menyambutnya dengan hujan panah. Sang Danramil tewas. Dua orang anggota TNI lainnya terluka parah. Di pihak pergerakan didengarnya enam orang tewas. Esoknya, terjadilah “pembersihan” itu. Suradi terseret. Ketika pembersihan itu terjadi, situasi memaksa Suradi ikut menyingkir dan terus menyingkir dari dusun yang telah memberinya kehidupan. Pada akhirnya, dia terdampar di Kota B.

Di tengah keputusasaan dalam pelariannya, Suradi merasakan tiba-tiba tangan Tuhan begitu mudah memutar jentera nasib hidupnya. Dia bertemu Dulamit, seorang pedagang terkemuka, penguasa berpuluh bidang kebun kopi dan sawah di desa P. Mulanya, Suradi minta izin menumpang truk seken yang baru dibeli Dulamit di Kota B. Dia berniat merambah kembali pelariannya ke M, sekitar dua jam perjalanan ke arah timur dari B. Merasa simpati mendengar cerita hidup Suradi, Dulamit tidak hanya mengizinkan menumpang, tetapi juga mengajaknya serta ke desanya. Suradi dimintanya menjadi pekerja di kebun kopinya.

Tiga tahun dilaluinya dengan tetes demi tetes keringat jatuh di atas jengkal demi jengkal kebun kopi milik Dulamit. Pada akhirnya Suradi dapat hidup cukup dan tenang, meski hanya tinggal di dangau di tengah kebun kopi Dulamit. Cukup kebutuhan untuk hidup sehari-hari; tenang karena tidak lagi diteror oleh ketakutan ditangkap aparat tentara atau polisi.

Tetapi, siapa yang bisa memutus rantai sejarah yang mengikat hidup sendiri? Sebagai manusia biasa Suradi pun kerap didera rasa hampa. Apalagi, hampa yang dirasakannya bersumber dari keterpisahan oleh tangan nasib yang menurutnya semena-mena memperlakukan hidupnya. Ada saat-saat sunyi yang kerap mengimpitnya dalam kesengsaraan batin karena terpisah dari orang-orang yang dicintainya: istri dan anak-anaknya.

Pada masa-masa awal tinggal di desa itu, dia masih bisa berhubungan dengan istrinya melalui surat. Tetapi, lama-lama hubungan itu terputus sepenuhnya karena surat-surat yang dikirimnya tidak lagi berbalas. Dia hanya bisa terhenyak sendirian, meresapi kesengsaraan. Bayangan istri dan tiga orang anaknya kerap melintas-lintas pada dinding pelupuh dangau tempat tinggalnya. Bayangan-bayangan itu lama-lama mengkristal dalam pikirannya. Maka diambilnyalah keputusan itu.

Pertemuannya kembali dengan istri dan anak-anaknya nyatanya menghadapkan Suradi kepada sayatan perih lain. Perjalanan diam-diamnya, dengan beban segala kekhawatiran, tetapi dipenuhi gambar-gambar kebahagiaan hidup masa depan di tanah pelarian yang diputuskannya akan menjadi tempat menghabiskan umur dan berkubur, tertumbuk cadas kekerasan hati sang istri. Ada yang rengkah di dalam hati Suradi ketika istrinya menetapkan pilihan bagi dirinya sendiri untuk mengakhiri kebersamaan dengan lelaki itu. Ya, kebersamaan yang baginya terasa semu dan melelahkan, tanpa secercah kepastian. ”Biarlah kita menjalani hidup masing-masing, Kang. Aku lelah hidup terus-menerus dalam ketakutan.”

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Suradi selain pasrah dan mengakui kenyataan itu sebagai konsekuensi lain dari pilihannya. Apa lagikah kekuatan seorang suami yang telah sekian tahun menelantarkan istrinya, membiarkan kekeringan hati dan raganya? Masih adakah kekuatan untuk memaksa seseorang menerima kembali sesuatu yang telah dianggapnya hilang; sesuatu yang tidak diinginkannya lagi pulang? Meski demikian, dia bersyukur. Anak sulungnya yang saat itu berusia tiga belas berkukuh ikut bersamanya. Dalam bayangan anak itu, bapaknya itu tetaplah seorang pahlawan. Cerita-cerita yang didengarnya tentang sepak terjang bapaknya telah memupuk kebanggaan di dalam hatinya yang naif dan belia.

*

Hari itu Lantra gelisah di dangaunya. Suradi, bapaknya, yang berjanji langsung pulang setelah membeli pupuk dan pestisida serta keperluan lain di M atas perintah Dulamit, sudah tiga hari tidak pulang-pulang. Kegelisahannya terjawab ketika petangnya Dulamit menyambangi dangaunya.

”Ntra, kaba harus sabar. Tuhan sedang menguji iman kaba. Bapang kaba tidak akan pulang. Dia ditangkap tentara di M. Tidak ada yang tahu sekarang dibawa ke mana”, tutur Dulamit.

Lantra yang belia terpaku beberapa jenak, sebelum tersungkur di lantai pelupuh dangau.

”Sudahlah,” hibur Dulamit, ”Mulai besok kaba tinggal di rumah kami saja. Temani si Rana belajar. Kabarnya, kaba pintar di sekolah. Kaba masih bisa terus sekolah, sambil membantu Kasman mengerjakan kebunku ini. Masalah sekolah, biar aku yang tanggung jawab. Mulai sekarang, akulah pengganti bapang kaba.”

*

Tidak pernah ada yang tahu sebelumnya, di balik kewajaran pergaulan Lantra dan Rana yang layaknya kakak-adik, tersimpan rahasia besar yang mereka tutup rapat-rapat. Orang-orang baru gempar ketika mengetahui Rana berhenti sekolah, dan Lantra dihajar habis-habisan oleh Dulamit. Rana hamil! Kegemparan berlanjut ketika Lantra dan Rana menghilang dari desa. Mereka sebambangan.

Sesungguhnya, tradisi memperlihatkan, sebambangan bukanlah hal yang sangat tidak lumrah. Anak yang sebambangan akan diterima lagi oleh kedua orang tuanya kalau mereka kembali. Kasih sayang kepada anak, darah daging sendiri, mengetuk dan membuka kembali pintu hati mereka. Tetapi, tidak bagi Dulamit. Siapa Lantra yang membuat diri dan kehormatannya tercabik-cabik di mata warga? Dia hanya “anak seorang makar” yang kebetulan ditolongnya; diberinya jalan untuk hidup; dan ditampung di rumahnya; dihidupi dan dididiknya. Luka di hati Dulamit terlalu rengkah menganga. Maka ketika Rana bersama Lantra tersungkur di kakinya, mengiba-iba memohon pengampunan, bukan penerimaan yang mereka dapatkan, melainkan sumpah serapah yang berujung pengusiran untuk kedua kalinya. Tidak seorang pun yang mampu meluluhkan hati Dulamit. Dan, itu harus dibayarnya mahal sekali: Rana mati bunuh diri dengan mulut beraroma keras pestisida bersama janin yang bersemayam di rahimnya.

Sejak itu, bila petang membayang, orang-orang lalu lalang selalu melihat Lantra duduk menekur di portal desa, tempat sekalimat sumpah diikrarkan dalam pekatnya sebuah rahasia. Juga tempat Rana meregang nyawa. (M-2)


Baturaja, April 2020

Catatan bahasa Semenda:
kalangan: pekan, pasar mingguan
tube: racun tuba
kaba: kau
bapang: bapak, ayah
sebambangan: kawin lari

BERITA TERKAIT