03 May 2020, 05:40 WIB

Ritual Menemui Raja Tikus


Ratun Untoro | Weekend

SUATU sore, di pematang sawah, Kirman, 58, di keli­lingi beberapa petani. Warga Grojogan, Tamanan, Ba­ngun­tapan, Bantul, Yogyakarta, itu, menceritakan ritualnya menemui raja tikus dengan bersemangat. Caranya mudah, katanya. Kirman cukup merapal mantra yang ia dapat dari ‘kiai’ sambil mengelilingi sawah pada tengah malam.

Ritual dimulai dari sudut sawah sisi tenggara. Kirman kemudian berjalan di pematang dengan menga­nankan sawah (searah jarum jam). Sebagian dari kita tentu mengingat ritual pradaksina. Di setiap sudut sawah, ia harus mengikat beberapa helai batang padi. Menurut sang ‘kiai’, setelah tiba di sudut sawah terakhir (bagian tenggara), Kirman akan ditemui seekor raja tikus putih sebesar sapi anakan. Ia bisa minta kepada raja tikus itu agar tidak mengganggu sawahnya.

Biasanya, permintaan itu terkabul. Di sudut pertama, ia bisa mengikat padi dengan mudah. Di sudut kedua, mulai terasa hawa dingin disertai angin. Ia mulai tegang. Tiupan angin dan hawa dingin semakin menjadi. Sesampainya di sudut sawah ketiga, ketika hendak mengikat batang padi, Kirman mendengar jutaan suara tikus seperti hendak menyerbunya. Angin bertambah kencang. Di sudut inilah, Kirman lari terbirit-birit pulang ke rumah. Petani itu gagal menemui raja tikus.

Sekilas, kisah Kirman tersebut serasa mendengar dongeng kha­yalan pengantar tidur. Namun, tidak bagi beberapa petani di desa sore itu. Suasana tidak mencekam, tetapi juga tidak terlalu santai. Sejak Desember 2018 hingga pertengahan Februari 2019, petani di dusun itu resah karena hama tikus. Mereka hampir tidak panen. Ritual mene­mui ‘raja tikus’ itu sudah dilakukan warga sejak dulu kala, dari generasi ke generasi.

Munculnya hama tikus yang tidak mudah diberantas itu disertai berbagai cerita mistis. Bahkan, meninggalnya salah satu warga desa, Siswanto, 48, sekitar awal Februari 2019 dikabarkan kena tulah akibat berusaha membasmi tikus sawah dengan obat semprot. Ada warga yang menyanggah bahwa kematian Siswanto karena menyemprot obat sambil merokok. Namun, kabar kualat atau dikutuk tikus lebih cepat menyebar. Sementara itu, penyebab secara medis tidak pernah sampai ke telinga warga.

Beberapa warga sekitar juga percaya bahwa tikus-tikus penyerbu sawah yang jumlahnya ribuan itu merupakan kiriman penguasa laut selatan, Ratu Kidul. Dengan demikian, tikus-tikus itu tidak perlu dibasmi atau diperangi. Pada saatnya, mereka akan pergi sendiri. Entah apa sebabnya, pertengahan Maret 2019, hama tikus itu sudah jauh berkurang.

Mitos

Mitos mengenai tikus telah lama dikenal manusia di seantero dunia. Sekadar menyebut, di Eropa, setidaknya sejak 1564 terkenal mitos rat king (di Jerman disebut rattenkonig, di Prancis roi des rats atau rouet de rats), yaitu kumpulan tikus yang ekornya saling terjalin hingga membentuk seperti jari-jari roda. Jumlahnya bisa mencapai 32 ekor.

Kehadiran rat king itu dipercaya sebagai pertanda buruk. Museum Zoologique de la ville de Strasbourg, Prancis, memajang koleksi rat king dari Delifeld, Jerman, yang ditemukan pada 1895. Cerita tentang rat king juga menginspirasi novel-novel atau komik, seperti The Tale of One Bad Rat karya Bryan Talbot (Dark Horse Comics, 1994) dan Luther: The Calling karya Neil Cross (Simon & Schuster, 2011).

Selain di Eropa, kita juga mengenal mooshika dalam kebudayaan India dan Asia Tenggara, yaitu tikus kendaraan (vahana) Dewa Ganesha, dewa kebijaksanaan yang juga termuat dalam epik Mahabharata.

Mitos sebagai sumber sejarah bisa diabaikan dan tidak perlu dilacak kebenarannya. Namun, mitos bisa kita pahami sebagai mekanisme nalar manusia. Mitos tentang tikus sebagai ‘puti’ atau ratu di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat, atau di Gunungkidul, Yogyakarta, sering disebut Den Bagus dipercaya sebagai jelmaan prajurit penguasa pantai selatan. Hal itu tidak harus selalu disalahkan dan dianggap sebagai batu ganjalan dalam memberantas hama tikus.

Mitos tersebut dapat dianggap sebagai nalar intelektual petani dalam menghadapi kenyataan yang sulit dipahami atau diatasi. Hal ini pernah ditegaskan antropolog dan tokoh strukturalisme Prancis, Claude Levi-Strauss (1908—2009). Ia mengatakan bahwa mitos pada dasarnya ialah ekspresi atas unconscious wishes, keinginan yang tidak disadari, yang tidak sesuai dengan kenyataan sehari-hari. Mitos dimanfaatkan untuk menjelaskan hal yang tidak bisa dijelaskan, diatasi, atau dilawan.

Itulah cara petani kita menente­ram­kan hati dan pikiran menghadapi kesulitan memberantas hama tikus. (M-4)

BERITA TERKAIT