02 May 2020, 18:05 WIB

Pedagang Kelapa Muda Eksis di Tengah Pandemi Korona


Palce Amalo | Nusantara

Belasan pedagang kelapa muda menggelar dagangan mereka di salah satu sisi Jalan Polisi Militer, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (2/5) siang. Sebelum pandemi korona hingga saat ini, kawasan itu memang tidak pernah sepi. Sejak lama, lokasi itu memang ditetapkan sebagai tempat penjualan kelapa muda.

Dalam kondisi normal, pedagang kelapa muda bertambah hingga puluhan orang. Bahkan mereka menggelar dagangannya hingga ruas jalan di depan Kantor Badan Perwakilan Daerah, Kantor KPU Provinsi, dan Kantor NTT Satu Data yang masih berada di jalan yang sama.

Namun, pandemi virus korona membuat sejumlah pedagang memilih tetap berada di rumah sehingga saat ini hanya tinggal 16 orang masih berjualan. Satu di antaranya, Lingga, 18, pedagang asal Kabupaten Timor Tengah Selatan.

"Saya tetap berjualan karena keuntungannya lumayan besar," katanya.

Seperti pedagang lainnya, setiap pekan, Lingga dua kali pergi ke desa di Kabupaten Kupang untuk membeli kelapa muda. Harga kelapa muda di tingkat petani sebesar Rp3.000 buah. Harga sebesar itu sudah termasuk ongkos transportasi.

Baca juga: MA Tolak Pemakzulan Wali Kota Pematangsiantar, DPRD: Tunggu KPK

Setiap pergi ke desa, dia membawa pulang antara 200-300 kelapa. Tiba di Kupang, satu buah kelapa muda dijual Rp5.000. "Kelapa sebanyak ini terjual paling cepat dua hari, paling lambat tiga hari," ujarnya.

Jadi, tidak heran, dalam tiga hari, ia meraup keuntungan sampai Rp400 ribu dari 200 buah kelapa muda yang terjual.

Lingga mengatakan selama pandemi korona, kelapa muda tetap laris. Meski persaingan cukup keras, usaha yang ia tekuni sejak 2019 itu masih mampu mendatangkan keuntungan cukup besar.

Di tempat berbeda, Aldi, siswa kelas II salah satu SMP di Kota Kupang memilih berjualan sayur keliling selama pandemi korona. "Daripada di rumah, saya cari uang dengan berjualan sayuran," katanya.

Ia ditemui saat menjajakan sayuran kepada warga di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Kuanini. Saban pagi, Aldi pergi ke pasar untuk membeli sayuran yang kemudian dijual dari rumah ke rumah. "Keuntungannya kecil, tetapi tetap untung," katanya. (OL-14)

 

BERITA TERKAIT