02 May 2020, 17:17 WIB

KPAI: Praktik Merdeka Belajar ala Nadiem Jauh dari Harapan


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

PERINGATAN Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020 terasa sangat berbeda, karena dilakukan dengan konsep virtual. Tidak ada upacara di lapangan seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi upacara dilaksanakan dan diikuti secara maya.

Langkah ini sesuai dengan Pedoman Penyelenggaraan Hardiknas Tahun 2020 disampaikan melalui surat Mendikbud Nomor 42518/MPK.A/TU/2020. Hardiknas kali ini mengusung tema Belajar Dari Covid-19. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti, menilai tema tersebut sangat tepat untuk refleksi tentang Merdeka Belajar yang telah dirilis oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim.

Baca juga:Mendesak, Perbaikan Data Terkait Penyaluran Bansos Presiden

Menurut Retno, pembelajaran jarak jauh (PJJ) di era pandemi covid-19 ternyata semakin menunjukkan bahwa Merdeka Belajar dan pembelajaran yang menyenangkan di dunia pendidikan Indonesia masih jauh dari harapan.

Hal ini dibuktikan dari hasil survey KPAI terkait PJJ yang diikuti oleh 1.700 responden siswa dan 602 responden guru dari 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota pada 13-21 April 2020. “Kebijakan belajar dari rumah karena situasi darurat pandemi covid-19 melalui PJJ menunjukkan potret yang terjadi dalam ruang-ruang kelas selama ini,"  kata Retno dalam pernyataan tertulis, Sabtu (2/5).

"Selain itu, kebijakan PJJ memperlihatkan ketidaksiapan dan kegagapan sekolah/madrasah, guru, siswa/santri, orang tua, termasuk pemerintah (daerah) dan pemerintah pusat dalam menyikapi kondisi darurat seperti ini. Setidaknya ada 68.265.784 juta siswa dan 3,2 juta guru yang merasakan ketidaksiapan sekolah dan pemerintah dalam menghadapi bencana nonalam seperti pandemi covid-19 ini,” lanjut dia.

Meski begitu, Retno mengatakan, di tengah pandemi dengan segala keterbatasan akses dan kurangnya kemampuan, para guru memiliki antusiasme dalam belajar dan mengajar, bahkan banyak guru-guru di pelosok daerah mendatangi para siswa untuk mengajar, kerena peserta didiknya sama sekali tidak memiliki peralatan daring dan kuota internet.

Baca juga:Update Covid-19: Total Pasien Sehat 1.665, Meninggal 831 Orang

“Semangat para guru ini menjadi harapan pastinya. Rasa ingin tahu, terus belajar mengelola PJJ berbasis daring, dan tak apatis bahkan pesimis. Ini patut diapresiasi pemerintah, orang tua, siswa, dan publik umumnya. Dari survey PJJ Guru yang dilakukan KPAI, hanya 6% guru yang merasa terbebani dengan PJJ,” tuturnya. (Aiw/A-3)

BERITA TERKAIT