02 May 2020, 07:05 WIB

PKBM: Jendela Ilmu di Wilayah 3T


Mediaindonesia.com | Nusantara

SORE itu, langit Desember 2019 di atas Balai Karangan sedikit mendung, menandakan musim penghujan akan segera tiba. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah yang tersiram air berhembus di sela dinding kayu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mustika di Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. PKBM tersebut terletak 15 Kilometer dari Pos Lintas Batas Negara atau PLBN Entikong yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan telah berdiri sejak tahun 2009.

Baleng Tinus (54) selaku Kepala PKBM Mustika mengatakan, bahwa sejak berdirinya PKBM Mustika sampai dengan saat ini, PKBM telah meluluskan 600-an peserta didik di berbagai jenjang pendidikan kesetaraan Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMA). Rata-rata dari mereka merupakan anak-anak yang putus sekolah lalu menjadi buruh di kebun kelapa sawit. Hal ini menjadikan usia dari perserta didik di PKBM Mustika cukup variatif, mulai dari mereka berusia remaja sampai dengan dewasa.

Baca juga: Pemerintah Gelontorkan Rp505,8 Triliun utuk Dana Pendidikan

“Sudah sepuluh tahun sejak PKBM ini berdiri, sudah 600-an siswa kami luluskan dari berbagai jenjang pendidikan kesetaraan. Kebanyakan dari mereka adalah buruh di kebun kelapa sawit dan anak-anak yang putus sekolah,” ujar Baleng.

Pada akhir tahun 2019, PKBM Mustika menaungi sekitar kurang lebih 120 peserta didik di tiga tingkat pendidikan kesetaraan, yaitu Paket A, Paket B dan Paket C, serta kelas Calistung untuk buta aksara dan angka. Oleh karena hal tersebut, PKBM membuat jadwal masuk bergantian bagi para Siswa supaya bisa mendapat waktu pembelajaran yang merata.

Mendung di sore itu menjadi riuh ketika dari kejauhan tampak berdatangan belasan peserta didik memasuki pagar PKBM. Mulai dari remaja, dewasa, bahkan terdapat seorang peremupan dewasa dengan menggunakan sepeda motor yang datang untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Sosok perempuan tersebut sangat menarik perhatian karena merupakan satu-satunya murid perempuan yang mengikuti kelas di sore itu. Bertubuh kecil dan berambut panjang, Ia sandarkan motornya di depan ruang kantor pengajar dan berbegas menuju kelas.

Duduk di depan meja komputer paling pojok dekat pintu belakang kelas. Ia berhadapan dengan komputer yang tidak menyala karena keterbatasan kapasitas meteran listrik di PKBM Mustika dan tampak canggung.

Siriani namanya, perempuan berusia 33 tahun tersebut masih semangat mengikuti kelas untuk mempersiapkan ujian kesetaraan Paket B yang akan diujikan dalam beberapa bulan kedepan.

Ibu dari tiga orang anak ini tinggal di daerah Sotok, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Jarak antara PKBM dan rumahnya adalah sekitar 10 Kilometer, mau tidak mau ia mengendarai sepeda motor untuk dapat sampai ke PKBM demi mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kadang, ia turut membawa anak bungsunya yang masih berumur 6 tahun jika sedang rewel atau tidak ada kerabat yang dapat dititipkan untuk menjaganya.

Dalam kesehariannya, Siriani bersama dengan suaminya Jaenal (40) bekerja sebagai buruh di salah satu pekerbunan kelapa sawit di Kabupaten Sanggau. Upah yang ia dapat sebesar 500 ribu Rupiah. Bersama dengan penghasilan suaminya, ia berusaha selalu mencukupkan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.

Untuk meningkatkan penghasilan yang didapat, ia berupaya menjadi Krani (administrator) di kebun sawit yang digaji sebesar satu setengah juta Rupiah perbulan. Akan tetapi, untuk menjadi seorang Krani, perusahaan tempat ia bekerja mewajibkan harus memiliki ijazah SMA atau setara (Paket C). Atas dasar itulah, ia bersemangat untuk dapat lulus sampai dengan ujian kesetaraan Paket C.

“Kalau sekarang buruh lepas gajinya satu bulan paling 500 ribu, karena kerjanya cuma tujuh hari saja. Kalau jadi Krani bisa sampai dua juta satu bulan, paling sedikit satu setengah juta,” ucap Siriani.

Beruntung, tempat Ibu Siriani bekerja memberikan ijin bagi para buruhnya untuk mengambil Paket C. Ia pun mengambil kesempatan itu dan memulai pendidikannya dari kelas Calistung (Baca Tulis dan Berhitung) karena ia  buta huruf. Setelah ia menyelesaikan kelas Calistung, Ibu Siriani melanjutkan ke Paket A selama tiga tahun dan lulus. Sekarang, sudah tahun ketiga ia mengikuti kelas Paket B, dan tahun ini ia akan menghadapi ujian ke lulusan Paket B.

“Saya ikut PKBM ini supaya bisa dapat ijazah Paket C. Teman saya kemarin diangkat jadi Krani karena sudah duluan ambil Paket C. Jadi saya mau seperti dia, dapat penghasilan lebih tinggi, kehidupan yang lebih bagus dan menjadi lebih pintar, biar tidak malu sama anak saya yang sekolah”, ujar Siriani.

Kelas pun dimulai dengan praktek komputer (Ms. Word). Pengajar yang saat itu dikelas mengajari para peserta didik dengan sabar, bahkan tidak sungkan ia menghampiri satu persatu peserta didik ke komputer masing-masing untuk memberikan petunjuk pengoperasian Ms. Word.

Siriani yang terlihat gugup di depan computer, hanya bisa berharap menunggu giliran dari peserta didik yang sudah selesai mengerjakan tugas dari pengajar. Tidak lama, terdapat satu murid yang selesai dan pengajar saat itu langsung meminta Siriani untuk berpindah komputer dan mencoba mengetikkan biodata dirinya di Ms. Word.

Meski tampak kaku, namun dengan dua jari telunjuknya, Siriani mulai mengetikan biodata dirinya. Perlahan tapi pasti, meski masih salah meraba letak huruf yang terhampar di keyboard, akhirnya Siriani pun berhasil mengetikkan biodata dirinya.

“Baru pertama saya pegang ini, belum bisa komputer, cuma bisa pegang aja, tapi saya harus bisa, karena kalau mau jadi Krani harus bisa ngetik-ngetik gitu dan isi data di handphone yang canggih itu, yang isinya layar semua (smartphone).” kata Siriani tersenyum malu.


Selain Siriani, belasan remaja lainnya juga sedang sibuk berlatih mengetikkan biodatanya di Ms. Word.  Terdapat satu remaja laki-laki yang terlihat sedang bersenda gurau dengan temannya yang sama-sama sudah selesai mengerjakan tugas. Kami pun menghampiri dan mencoba berbincang dengannya.

Remaja tersebut bernama Urai, begitulah ia memperkenalkan diri. Ia berusia 19 tahun, wajar jika memang secara penampilan wajah dan fisik seperti orang dewasa. Berperawakan tinggi, tegap namun agak kurus dengan rambut yang diwarnai emas di bagian poni. Ia juga merupakan peserta didik paket B seperti Siriani. berdomisili tidak jauh dari Balai Karangan hanya butuh waktu 10 menit untuk tiba ke PKBM Balai Mustika dengan menggunakan sepeda. Dalam kesehariannya, Urai bekerja menjadi buruh di Kebun Kelapa Sawit yang telah ia jalani sejak putus sekolah.

Ia bercerita bahwa tujuannya mengikuti kelas Paket B adalah untuk bisa melanjutkan ke Paket C dan pergi ke Pontianak untuk mencari kerja disana, bahkan jika mampu, ia berharap dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Saya ikut Paket B karena saat kelas 2 SMP, ayah-ibu tidak cukup uang untuk biaya sekolah saya, jadinya saya berhenti sekolah. Saya ikut ayah kerja di kebun sawit. Teman-teman saya satu kampung juga seperti itu. Sekolah sampai SMP, berhenti, lalu kerja di kebun sawit. Sekarang sudah ada uang, jadi mau lanjutin lagi sampai Paket C, terus ke Pontianak. Mau cari kerja saja disana, syukur kalau nanti bisa sambil kuliah,” ujar Urai dengan semangat.

Dalam peringatan Hari Pendidikan tahun ini, ada baiknya kita dapat mencontoh semangat para peserta didik di wilayah terdepan Indonesia ini. Dengan keterbatasan akses pendidikan seperti mulai dari kurangnya biaya, jauhnya akses menuju sekolah dan kurang lengkapnya fasilitas, tidak menyurutkan semangat mereka dalam mengeyam pendidikan.

Di daerah perbatasan ini, negeri tetangga terasa lebih dekat kehadirannya melalui perkebunan sawit yang pengelolaannya berada dibawah perusahaan negara tetangga. Menjadi buruh di kebun sawit di usia belia juga sudah seperti menjadi budaya di masyarakat sini. Menurut Kepala PKBM Mustika, Baleng, banyak faktor yang menyebabkan warga putus sekolah, selain karena persoalan ekonomi, infrastruktur pendidikan yang belum memadai, jarak rumah ke sekolah, juga karena faktor usia.

“Di kampung-kampung sekitar sini bahkan di luar Kabupaten banyak yang putus sekolah, pertama karena biaya, jarak sekolah dan umur juga, diperparah dengan kebiasaan bekerja menjadi buruh sejak muda seperti sudah membudaya dan menjadi satu-satunya pilihan untuk menyambung hidup” kata Baleng.

Semangat di kondisi seperti itulah yang harus diteladani oleh para pelajar di seluruh Indonesia. Ketika beberapa wilayah yang memiliki fasilitas dan akses pendidikan yang mudah serta lengkap, masih ada saja yang menyepelekan pentingnya bersekolah. Di beberapa wilayah yang serba memiliki keterbatasan justru terdapat orang-orang yang sangat bersemangat dan menerobos semua halangan untuk bisa mengenyam pendidikan yang layak dan setara.

Semangat belajar yang ditunjukkan oleh para peserta didik di wilayah perbatasan yang notabene termasuk dalam wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) sebaiknya harus dapat kita jaga bersama.

Berbagai upaya pun dilakukan berbagai pihak, tidak terbatas oleh Pemerintah maupun swasta. Contohnya, seperti yang dilakukan oleh Askrindo dalam Program Askrindo Peduli Pendidikan belakangan ini.

Sebelumnya pada Agustus lalu, melalui program Bina Lingkungannya pada saat kegiatan BUMN Hadir Untuk Negeri (BHUN) di Kalimantan Barat, ketika merayakan HUT Kemerdekaan RI di Mempawah Askrindo menyalurkan bantuan unit komputer kepada tiga PKBM yang berada di wilayah 3T di Kalimantan Barat, yaitu PKBM Mustika di Balai Karangan, PKBM Sinar Pagi di Sambas dan PKBM Bina Utama di Sosok.

Bantuan komputer memang sangat dibutuhkan oleh PKBM sekarang ini, khususnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang sejak dua tahun lalu, Ujian Nasional Kertas dan Pensil (UNKP) sudah dihapuskan untuk PKBM.

“Sudah sejak dua tahun lalu, kami sedikit sulit untuk mempersiapkan peserta didik kami untuk menghadapi Ujian Nasional dengan menggunakan komputer. Di tempat kami belum ada dan kami siasati dengan menyewa komputer di sekolah formal. Tentu ada biaya yang cukup besar kami keluarkan tiap tahun untuk dapat memenuhi hal tersebut,” tambah Baleng.

Disamping itu, pemberian bantuan komputer ke beberapa PKBM di wilayah 3T ini juga merupakan upaya pengentasan gagap teknologi. Di era 4.0 yang serba terkoneksi, keberadaan komputer di PKBM sangat membantu peserta didik untuk beradaptasi dengan kemajuan untuk dapat melek teknologi.

Tidak berhenti sampai di situ, dalam rangka mendukung visi misi presiden untuk ikut membangun SDM yang unggul di wilayah 3T, Askrindo pada bulan Desember kembali memberikan bantuan Askrindo Peduli Pendidikan kepada dua PKBM di Sambas, Kalimantan Barat. PKBM pertama yang diberikan bantuan adalah PKBM Gemilang dengan bantuan berupa 10 unit Komputer.

Sadar bahwa pendidikan tidak melulu tentang pengetahuan umum, Direktur Kepatuhan dan SDM PT Askrindo, Firman Berahima menjelaskan bahwa juga telah memberikan bantuan kepada PKBM yang mengajarkan pendidikan keterampilan, seperti PKBM Tunas Karya berupa 6 unit mesin jahit yang nantinya akan digunakan untuk sarana praktek peserta didik dalam mengembangkan keterampilan menjahit.

“Upaya mencerdaskan tidak selalu terkait pada pendidikan yang berorientasi pada pengetahuan umum, pendidikan berbasis keterampilan pun perlu kita dukung. Semoga dengan bantuan mesin jahit yang kita berikan kepada PKBM Tunas Karya dapat memberikan manfaat kepada para peserta didiknya,” ucap Firman di kesempatan yang berbeda.

Upaya sekecil apapun, patutnya dapat kita lakukan demi pemerataan pendidikan di Indonesia, terutama di wilayah 3T dalam rangka mencerdaskan masyarakat guna menciptakan SDM Indonesia yang unggul kedepannya. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT