02 May 2020, 06:40 WIB

Evaluasi Pelatihan Daring Program Kartu Prakerja


Putra Ananda | Ekonomi

PELATIHAN daring dalam program kartu prakerja dinilai mubazir dan rawan penyelewengan. Sebaiknya dana sebesar Rp5,6 triliun untuk pelatihan daring itu dialokasi untuk bantuan tunai yang lebih dibutuhkan masyarakat yang terdampak pandemi covid-19.

“DPP Partai NasDem memandang perlunya peninjauan kembali atas pelatihan daring yang melibatkan delapan penyedian layanan (provider).
Selain telah mendapatkan banyak gugatan dari publik, pelatihan itu juga rawan penyelewengan,” ujar Wakil Ketua Umum Partai NasDem Achmad Ali dalam keterangan resminya di Jakarta, kemarin.

Ali menilai program ini hanya akan menjadi ajang bancakan sejumlah pihak penyedia layanan (provider). ‘’Ini artinya ada problem agensi dalam proses pelaksanaan program kartu prakerja ini.’’

Penilaian serupa juga disampaikan ekonom dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah.

“Pelatihan daring itu tidak tepat waktu. Masyarakat membutuhkan bantuan tunai untuk menggantikan income yang hilang selama masa pandemi,” tutur Piter saat dihubungi, kemarin.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily menegaskan pemerintah sudah menyatakan bahwa mekanisme penentuan vendor pelatihan daring dilakukan secara terbuka. Selain itu, beberapa peserta program kartu prakerja mengatakan sudah merasakan manfaat dari program ini.

“Saya setuju bahwa setiap program pemerintah, apa pun programnya termasuk program kartu prakerja, bansos tunai, dan program perlindungan sosial untuk mengatasi dampak covid-19 ini perlu pengawasan dari aparat penegak hukum, baik itu KPK, BPK, kepolisian, maupun kejaksaan,” ujar Ace.

Dicabut

Public Relations Lead Ruang Guru Sekar Krisnauli mengungkapkan mereka akhirnya mencabut materi jurnalistik atas permintaan Prita Kusumaputri, salah satu pengajar di Ruang Guru.

“Kami memutuskan bahwa kelas itu tidak akan ditawarkan untuk peserta kartu prakerja mulai tanggal 2 Mei 2020,” ujar Sekar ketika dihubungi tadi malam.

Sebelumnya, Prita mengajukan protes terkait pelajaran pelatihannya masuk ke program prakerja karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

‘’Kerja sama sudah dilakukan sejak 2019. Hak cipta dan penggunaan berada di pihak skill academy sepenuhnya dan sudah disepakati bersama,” ujar Sekar memberi alasan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari mengungkapkan, pada gelombang pertama, mayoritas peserta memilih pelatihan daring keterampilan bahasa Inggris dan memulai bisnis kopi.

“Pelatihan yang paling digemari itu bahasa Inggris, yang terdiri atas paket grammar dan toefl . Ini yang paling diminati,” katanya.

Pelatihan daring dari program kartu prakerja ini dikritik karena selain tidak begitu dibutuhkan saat ini, layanan serupa mudah didapat secara gratis. Beberapa di antaranya bahkan diselenggarakan perusahaan besar, seperti Nikon untuk kelas fotografi , Oracel dan Microsoft untuk bidang teknologi informasi. Bahkan Coursera menawarkan 3.800 program kursus gratis dan memiliki 400 spesialisasi. (Mir/Zuq/Van/X-10)

BERITA TERKAIT