02 May 2020, 06:30 WIB

Kasus Epidemiologi Thalut dan Jalut


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

TERNYATA bukan hanya satu jenis. Banyak jenis epidemi yang diperkenalkan Alquran.

Epidemi lain juga pernah diderita kaum Thalut dan Jalut seperti diungkap di ayat: Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kami dengan suatu sungai. Maka, siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.”

Lalu mereka meminumnya, kecuali beberapa orang. Maka, tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi
sungai itu, orangorang yang telah minum berkata: ”Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar,” (QS Al-Baqarah/2: 249).

Para prajurit yang kehaus an menemukan air sungai dan banyak yang melupakan pengarahan pimpinan mereka agar berhati-hati mengambil air di sungai itu karena di sana terdapat sejenis virus yang membahayakan.

Di tengah perjalanan, ketika pasukan tiba di tepi sungai itu, betul banyak rombongan tidak mengindahkan nasihat pimpinannya. Mereka mengambil air tidak dengan cidukan tangan, tetapi melalui bejana atau timba. Akhirnya mereka terserang virus yang gejala awalnya mereka merasakan fisiknya menjadi lemah.

Bersamaan dengan itu, bibir mereka menjadi hitam dan dahaganya tidak bisa berhenti. Para pelanggar ketentuan itu merasakan langsung akibat dari pelanggarannya.

Menurut Dr Opitz, seorang ahli sejarah penyakit, air dalam sungai itu cukup steril jika diambil dengan cidukan tangan. Di bagian permukaan air cukup aman dan tidak akan mendatangkan bahaya. Namun, bila diambil dengan bejana atau timba dalam jumlah lebih banyak, air itu
tidak steril lagi karena berbagai kotoran yang mengandung mikroorganismus yang berbahaya.

Orang-orang yang minum air dengan cidukan tangan akan aman, sedangkan yang menggunakan bejana atau timba sangat riskan. Karena banyak minum air dengan menggunakan bejana, mereka menderita penyakit perut sehingga mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan ke medan perang.

Mereka harus mengalami perawatan khusus. Menurut Ahmad Ramali, perintah supaya meminum air sungai itu hanya diizinkan dengan cidukan tangan berarti suatu prophylaxis terhadap lintah yang karena diciduk akan kelihatan di telapak tangan sehingga bisa disingkirkan.

Namun, mereka yang meminum dengan bejana, maka air itu akan langsung masuk ke mulut kemudian lintah-lintah melekat pada kulit selaput mulut dan pharynx (hulu kerongkongan) sehingga mengakibatkan pendarahan terus-menerus.

Lintah pembawa epidemi ini sejenis limnatis nilotika. Di musim panas dan musim semi memang sering ditemukan di sekitar Palestina utara sehingga banyak kuda dan himar di daerah ini moncongnya sering berdarah.

Kasus yang sering melanda penduduk Palestina ini sudah cenderung menjadi semacam endemi karena sudah menjadi ancaman rutin bagi masyarakat di wilayah itu. Kisah ini menginformasikan kepada kita bahwa sejumlah virus yang selama ini membahayakan binatang sudah ikut membahayakan juga bagi manusia.

Wacana penularan virus binatang ke manusia sudah terdeteksi di dalam Alquran. Hanya para ilmuwan terlambat melakukan kajian mendalam terhadap Alquran, yang semakin hari semakin mengungkap misteri kehidupan.

Kini sudah tiba saatnya untuk kita lebih mendalami kedalaman makna Alquran sebagai pedoman hidup ideal bagi umat manusia.

BERITA TERKAIT