02 May 2020, 06:35 WIB

Ada Masker bagi Penyandang Tunarungu


Widjajadi/N-3 | Nusantara

BERBAGAI inovasi dan kreativitas, baik secara personal maupun kelompok, bermunculan  dalam menghadapi penyebaran virus korona baru (covid-19). Salah satu inovasi tersebut ialah membantu para penyandang tunarungu.

Tindakan mulia itu dilakoni Eka Sari Utami, pemerhati penyandang tunarungu di Wonogiri, Jawa Tengah. Perempuan berusia 25 tahun itu membuat masker khusus untuk para penyandang tunarungu agar mereka tetap bisa leluasa berinteraksi dan aman dari kemungkinan terinfeksi covid-19.

Jebolan D-3 Rekam Medis dan Kesehatan Sekolah Vokasi UGM Yogyakarta itu bertutur, kreativitas tersebut muncul ketika para penyandang tunarungu di Wonogiri memperlihatkan di media sosial gambar masker transparan di Amerika Serikat (AS).

“Terus terang saja, saya sebagai penerjemah bahasa isyarat penyandang tuli prihatin karena di Indonesia belum ada masker khusus untuk mereka. Yang ada hanya masker yang menutupi mulut yang menyulitkan mereka berkomunikasi,” ungkap Eka.

Di Wonogiri, banyak warga tunarungu yang sulit berkomunikasi karena memakai masker yang menutupi mulut mereka. Hal itu mendorong Eka yang selama ini kerap membantu aktivitas para penyandang tunarungu membuat masker transparan.

Lewat media sosial Instagram, dia kemudian memperhatikan secara saksama masker transparan di AS. Secara kebetulan, Eka mengenal seorang warga penyandang tunarungu di Dusun Pakis, Desa Wuryorejo, Kota Wonogiri, bernama Sutantini yang berprofesi sebagai penjahit.

“Saya dekati dan ajak ngobrol, apakah bisa memenuhi harapan teman-teman sesama tunarungu untuk membuat masker transparan. Dia sanggup dan saya membiayai secara pribadi. Saya membuat desainnya dan Mbak Sutantini yang menjahit,” terangnya.

Kedua perempuan itu memerlukan beberapa kali uji coba sebelum memproduksi masker transparan yang diinginkan. Pada desain ketiga, masker yang diimpikan dirasa pas untuk memenuhi kebutuhan penyandang tunarungu.

Wujudnya ialah masker yang enak dipandang dan bisa dipakai untuk berkomunikasi serta dapat memproteksi penggunanya dari kemungkinan terinfeksi covid-19 saat berkegiatan.

“Ternyata apa yang saya lakukan bersama Mbak Sutantini menarik perhatian Gerkatin (Gerakan Kaum Tuli Indonesia) di luar Wonogiri. Sejumlah dokter THT yang membina penyandang tunarungu juga mengapresiasi agar saya bisa memproduksi secara massal,” papar Eka.

Hal itu membuat Eka dan Sutantini bersemangat untuk memproduksi masker transparan secara massal. Namun, mereka tidak memiliki modal. Di tengah keterbatasan modal, muncul seorang pemerhati tunarungu dari Tebet, Jakarta Selatan, bernama Ifan Ohsi.

Dia siap membantu pendanaan setelah mengetahui masker tranparan tersebut dari gambar yang dipamerkan Eka di media sosial. Kini, masker transparan yang terbuat dari kain khusus dan mika itu sudah dijual untuk umum dengan harga hanya Rp15 ribu.

“Tapi untuk teman-teman tuli di Wonogiri, kami bagikan secara gratis,” pungkasnya. (Widjajadi/N-3)

BERITA TERKAIT