02 May 2020, 05:05 WIB

Berserah atas Anugerah Allah


Ata/H-3 | Ramadan

ALLAH kembali menegaskan betapa banyak anugerah yang diberikan-Nya kepada umat manusia. Manusia telah diberi tuntunan syariat untuk diikuti dan dianjurkan mengikuti ilmu menuju jalan yang benar.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Tafsir Al Mishbah episode kali ini. Dikatakan dalam Surah Al Jatsiyah ayat 12, “Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.”

Dengan kuasa-Nya, kapal-kapal biasa berlayar di lautan. Dari hal tersebut, manusia memperoleh anugerah-Nya, seperti ikan dan mutiara. Karenanya, manusia harus bersyukur dengan cara menggunakan nikmat Allah sesuai dengan tujuannya diberikan.

Nikmat Allah kemudian bukan hanya tersimpan di laut, melainkan juga ada di bumi dan seluruh isinya. “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Namun, masih banyak manusia yang tidak bersyukur akan anugerah yang diberikan Allah. Lantas, dalam ayat 14 Allah memerintahkan kepada manusia beriman untuk memaafkan orang yang tidak percaya akan kebesaran Allah. Pada dasarnya, Allah selalu memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk memiliki kesadaran bertaubat.

Akhirnya, Allah juga akan memberi alasan bagi setiap orang atas apa yang dilakukannya. Hal itu ditegaskan dalam ayat 15. “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.”

Selanjutnya, Allah menceritakan tentang kisah kaum Bani Israil yang telah diberikan kenikmatan oleh-Nya. Sayangnya, kaum Bani Israil lalai dan malah berselisih atas ilmu yang dimiliki masing-masing. Pada hari kiamat, Allah yang akan memutuskan tentang apa yang membuat mereka berselisih. Karena itu, manusia harus menggunakan ilmu dengan hati agar tidak menjadi orang durhaka. Dengan demikian, ilmu akan menuntun kita menuju jalan yang benar.

“Kemudian Kami jadikan kamu wahai Muhammad berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”

Dikatakan Allah, bahwa syariat merupakan jalan menuju sumber air. Air ialah sumber kehidupan. Artinya, syariat berarti agama sebagai hal yang paling dibutuhkan.

Manusia harus menyadari bahwa beragama harus dilakukan atas dasar pengetahuan. Maka itu, manusia dianjurkan mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan mengikuti orang yang memiliki ilmu agama.

Allah berfirman bahwa orang-orang yang zalim menjadi penolong bagi sebagian yang lain dan Allah ialah pelindung orang-orang yang bertakwa. (Ata/H-3)

BERITA TERKAIT