02 May 2020, 02:40 WIB

Joe Taslim Persiapkan Syuting ala Atlet


Bagus Pradana | Humaniora

SETELAH berhasil mencuri perhatian khalayak luas melalui perannya di The Raid, aktor laga Indonesia Joe Taslim, 38, berkibar di jagat perfilman internasional. Ia bahkan telah terlibat dalam sejumlah proyek garapan produser Hollywood, dari Fast & Furious 6 (2013), Star Trek Beyond (2016), hingga Mortal Kombat yang akan tayang tahun depan.

Dalam sesi obrolan daring yang dihelat akun Instagram Netflix Indonesia, aktor yang juga mantan atlet bela diri ini pun tak segan untuk membagikan pengalamannya saat membintangi sejumlah film laga, baik garapan luar maupun dalam negeri.

Menurutnya, kunci utama dari kesuksesan bermain film laga ialah persiapan dan latihan. Baginya, bermain dalam sebuah film itu sama seperti ketika ia mengikuti kejuaraan judo, cabang olahraga yang sempat ia geluti sebagai atlet nasional.

“Kuncinya kalau di film action itu, ya latihan, seperti ketika kita mempersiapkan kejuaraan. Kan dulu aku mantan atlet, kunci utama untuk jadi juara itu 70% di latihan dan aku menerapkan prinsip yang sama ketika syuting film action. Latihannya harus banyak karena pada saat syuting kondisi bisa beda, bisa lebih baik, bisa lebih buruk,” terang Joe Taslim dalam program Live IG Netfl ix Ngabuburit, Rabu (29/4).

“Nah, saat syuting, kalau kita latihannya bagus, fisik juga bagus, setiap ada kendala, itu pasti bisa kita improvisasi sendiri. Perbedaan utama genre ini (action) dengan drama atau yang lain-lainnya ada dipersiapan fisik yang harus luar biasa, menurutku,” tambah pria kelahiran Palembang itu.

Persiapan intens tersebut juga yang menurutnya membuat film aksi Indonesia ataupun Asia pada umumnya bisa memiliki daya tarik tinggi. Joe berpendapat kebanyakan film laga Asia lebih baik daripada produksi Hollywood karena masih mempertahankan pendekatan practical sehingga setiap adegannya terlihat lebih nyata. “Jadi, untuk adegan-adegan di The Raid (misalnya), kita banyak adegan yang gila-gilaan, yang aku jatuh, harus ketiban segala macem. Itu harus kita lakukan practical karena kita enggak punya budget yang besar untuk meng-cover adegan itu secara teknologi. Kita semua practical dan practical itu bisa dilakuin kalau semua persiapannya sempurna,” tutur Joe.

Itu pula sebabnya para pencinta film laga di dunia, lanjutnya, memberi apresiasi tinggi terhadap film The Raid, The Night Comes for Us, atau fi lm-fi lm Hong Kong zaman dulu sebab para aktor melakukan sendiri adegan-adegan tarung mereka atau adegan lain yang melibatkan ketangguhan fisik. “Itu yang dihargai oleh seluruh ‘action fans’ di seluruh dunia. Itulah kenapa mereka selalu bilang fi lm action terbaik ialah dari Asia,” ujarnya.


Keterbatasan

Namun, tak berarti produksi film laga Hollywood tidak punya kelebihan. Joe mengatakan ada dua perbedaan mendasar antara produksi film Hollywood dan film-film dalam negeri. Dua hal yang ia garis bawahi dari produksi Hollywood ialah sistem kerja dan keamanan.

Joe mengaku cukup terkesan dengan aturan berlapis yang diterapkan dalam setiap produksi film Hollywood, yang sebagian besar  iorientasikan untuk keselamatan para aktor.

“Hollywood itu beda sistem kerjanya (dengan film Indonesia), dalam arti karena industrinya sudah sangat maju ya. Di sana ada banyak banget restrictions, terus mereka safety issues-nya itu juga berlapis karena dilindungi oleh undang-undang. Jadi, apa pun yang berbahaya sedikit pun tidak boleh dilakukan oleh aktornya,” ungkapnya.

Di satu sisi, keterbatasan tersebut bermanfaat untuk melindungi para aktor. Di sisi lain, kreativitas aktor menjadi terbatas. Namun, karena produksi film Hollywood banyak yang berbujet besar, adeganadegan berisiko bisa diciptakan dengan teknologi CGI. Teknologi itu memungkinkan adegan terlihat riil tanpa harus menciptakan risiko tinggi bagi para aktor terkait. (M-2)

BERITA TERKAIT