01 May 2020, 16:54 WIB

Shift, Gerakan Pemuda Hijrah Kini Total Digital


Rukmi Hapsari | Humaniora

Namun, kesenyapan karena keharusan melakukan semua aktivitas, termasuk beribadah #dirumahsaja, terjadi di bangunan fisik masjid semata. Diskusi bertopik Mengejar Impian, hingga Metode Pendidikan Rasulullah serta pengajian-pengajian dengan tema-tema yang dekat dengan keseharian anak muda, tetap berlangsung, seru dan sesekali diselingi tawa, diselenggarakan melalui digital.

Masjid Al Lathiif serta aneka kegiatan didalamnya memang telah ditutup sejak Selasa, 17 Maret 2020. Namun. anak-anak muda pegiat masjid yang menamakan komunitasnya Shift Pemuda Hijrah tetap bergeliat. Pengajian digital dan media sosial senantiasa diperbaharui, konsisten mengkampanyekan gerakan Banyak Maen, Banyak Manfaat.

Terkini, program Penyediaan Perbekalan Darurat yang diselenggarakan sejak 22 Maret 2020. Shift Pemuda Hijrah menggalang donasi bahan pangan untuk diberikan pada masyarakat yang membutuhkan serta penyemprotan disinfektan di berbagai wilayah di Bandung, berkolaborasi dengan komunitas lainnya.

"Prinsip kami, donasi yang terkumpul dalam sehari langsung disalurkan kepada yang membutuhkan, misalnya tukang becak, petugas kebersihan, pengemudi ojek, tuna wisma, anak yatim, pedagang keliling termasuk korban banjir. Bantuan berupa sembako tersebut diharapkan bisa meringankan beban, meskipun mungkin hanya untuk satu hari saja," ujar Farhan Krismandar Suryatrilaga Kusuma Negara alias Inong, salah satu pendiri Shift kepada Fokus BI.

Ikon hijrah Bandung
Dirintis lima tahun lalu, Shift sukses menorehkan warna baru pada wajah Bandung yang  identik dengan berbagai gerakan kreatif anak-anak mudanya. Namanya terinspirasi dari tombol Shift di papan ketik komputer yang bermakna pindah atau berubah. Inong berkolaborasi dengan Hanan Attaki, ustad penghapal Al Quran yang kerap tampil dengan kupluk ala pemuda saat berceramah bahkan memimpin salat. Dikawal sedikitnya 50 para pegiat, Shift kini melancarkan gerakan Barisan Bangun Negeri, gerakan dakwah sosial dan lingkungan untuk mengatasi masalah umat, Teras Tahfizh, program belajar menghapal Al Quran hingga Lesswaste Shift, gerakan peduli lingkungan yang dimulai dari masjid.

"Kajian di sini mudah dicerna, banyak motivasi, terutama buat orang yang lagi down, imamnya juga bagus. Saya jadi belajar jadi pribadi yang humble, bersyukur, tidak menghakimi, lapang dada, dermawan, berbagi senyum atau saling membantu. Saya selalu ingat Ustad Hanan yang selalu bilang jangan sedih, ada Allah, kata kata itu selalu menjadi moodboster buat teman-teman Al Lathiif," kata Prim, jamaah Al Lathiif.

Ramadan kali ini, memang tak ada lagi perjumpaan fisik jamaah Shift, termasuk Prim, dalam acara-acara besar, termasuk Ngabuburide. Acara buka bersama berbagai komunitas mulai papan seluncur, motor hingga sepeda, yang diakhiri salat berjamaah itu diselenggarakan di Gelora Bung Karno pada 2018. Namun, gerakan berbagi hingga pembelajaran berlangsung terus lewat Instagram hingga podcast. (X-16)

 

BERITA TERKAIT