01 May 2020, 16:39 WIB

Aplikasi Buat Pemburu Promo


Farhan Zhuhri | Ekonomi

Wahai hamba promo, yang setiap masuk ke minimarket melirik label harga yang dicoret, tergoda membeli gara-gara tawaran beli dua gratis satu atau bahkan yang lebih niat, riset di situs masing-masing toko untuk mencari informasi diskon, kini ada jalan pintas. Unduh saja, aplikasi sharing community Shooper, menyajikan rekomendasi harga-harag promo barang kebutuhan sehari-hari di supermarket, minimarket dan toko-toko offline.

Diluncurkan pada Rabu (29/4) melalui Google Meet, Oka Simanjuntak, CEO & Founder Shooper menyatakan rekomendasi lokasi promo itu dijamin valid karena data-data yang dihimpun sebagai dasarnya adalah struk belanja yang difoto para konsumen dan diunggah dalam aplikasi. "Karena berbagai riset, di antaranya dari Nielsen menunjukkan, 95% masyarakat Indonesia masih berbelanja secara offline, terutama untuk kebutuhan sehari-hari atau grocery. Sehingga rekomendasi harga seperti ini sangat dibutuhkan," ujar Oka yang bersama tim menyiapkan Shooper sejak dua tahun lalu.

Oka mengaku terinspirasi dari sang istri yang memiliki grup WhatsApp yang berisi ibu-ibu yang gemar bertukar informasi barang diskon. Kecenderungan yang lazim dijumpai dalam masyarakat Indonesia ini, memungkinkan pemanfaatan metode crowdsource, yang dipadukan human augmentation, penggabungkan artificial intelligence dengan human interaction untuk membaca dan mengolah data harga produk dari setiap struk belanja yang diunggah pengguna.

Data-data ini dikelola dengan akurat dan dapat dimanfaatkan untuk mencari harga termurah atau membandingan harga dalam fitur Find The Lowest Prices. Sedangkan untuk korporasi, yang menjadi target sumber pendapatan Shooper, analitik data yang besar dapat digunakan untuk memahami perilaku konsumen dan menemukan segmentasi.

"Terlebih dalam kondisi Covid-19 saat ini, banyak terjadi perubahan perilaku konsumen, sehingga perusahaan berusaha untuk mendapatkan informasi terkait hal itu. Sehingga pada akhirnya, ekonomi Indonesia bisa menjadi lebih kompetitif dan inovasi-inovasi terciptakan. Di saat yang sama, kerahasiaan data pribadi pengguna aplikasi kami jamin keamanannya, jadi pengguna tidak perlu kuatir," ujar Oka.

Indonesia, kata Oka, menjadi pasar yang tepat bagi Shooper karena negeri ini memiliki komunitas pengguna media sosial terbesar dan gemar berinteraksi, berbagi informasi dan saling membantu. Kondisi itu pula yang melatari fitur-fitur lainnya, di antaranya ShooperTrack, informasi pengeluaran bulanan, ShooperPoint yaitu hadiah yang diberikan sesuai jumlah struk belanja yang diunggah, berupa ponsel, produk elektronik hingga voucher belanja. Ada pula ShooperChef , resep yang dibagikan sesama pengguna yang juga memuat informasi lokasi pembelian bahan-bahannya dengan harga termurah.

Oka mengaku optimistis Shooper akan meraih target 1 juta pengguna aktif pada dua tahun ke depan, meningkat pesat dari angka 100.000 pada akhir 2020. "Bank Dunia melaporkan bahwa pengeluaran terbesar untuk rata-rata rumah tangga di Indonesia adalah untuk kebutuhan sehari-hari atau grocery, yaitu sekitar 49% dan itu hampir sepenuhnya dilakukan offline. Karena itu, membeli barang-barang tersebut dengan harga terbaik sangat penting untuk masyarakat, kondisi ini yang membuat Shooper relevan."

Maria R. Nindita Radyati, Wakil Ketua Komite CSR KADIN dan pendiri MM Sustainability Universitas Trisakti yang juga berbicara dalam jumpa media itu menyatakan, kehadiran Shooper menjadi penanda Indonesia telah memasuki era sharing economy yang ditunjang dengan kultur sharing community yang bisa menjadi harapan ekonomi negeri ini terus bertahan bahkan bergeliat kembali pasca Covid-19.

"Ditinjau dari prinsip keberlanjutan, dampak yang dihasilkan dari inovasi ini adalah penghematan, wellbeing atau kepuasan serta makin pendeknya rantai karbon karena konsumen mendapat rekomendasi berbelanja dengan harga termurah di lokasi terdekat." (X-16)

BERITA TERKAIT