01 May 2020, 16:26 WIB

Negara-negara Berikut ini Berlomba Kembangkan Vaksin Covid-19


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

KETIKA virus korona jenis baru (covid-19) terus menyerang dunia yang letih dengan lebih dari 3,2 juta kasus dan lebih dari 229 ribu kematian pada Kamis (30/4), para ilmuwan global bekerja berkejaran dengan waktu untuk menemukan vaksin.

Pada awal April, lebih dari 60 vaksin potensial sedang dievaluasi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sebelum disetujui, vaksin harus diuji pada hewan, dan kemudian melalui tiga evaluasi percobaan pada manusia.

Baca juga:Peraih Nobel Sebut Korona Ciptaan Tiongkok, Murid: Hoaks

Para ahli mengatakan meskipun upaya yang menguras energi besar, vaksin masih diprediksi akan tercipta 12 sampai 18 bulan lagi, atau lebih.

Sementara periode 12 hingga 18 bulan tampaknya merupakan waktu yang lama untuk mengembangkan vaksin, dalam ilmu pengetahuan itu seperti berlari dengan kecepatan seekor cheetah.

Vaksin penyakit gondok pada 1967 membutuhkan waktu empat tahun untuk diperkenalkan dan para peneliti mengatakan itu dianggap yang tercepat yang pernah diproduksi.

Berikut adalah beberapa negara yang terlibat dalam upaya pengembangan vaksin covid-19.

Kanada

Di fasilitas penelitian di Saskatoon yang merupakan bagian dari University of Saskatchewan, 200 musang berbaris sebagai kelinci percobaan. Binatang itu berada di pusat harapan Kanada untuk menemukan vaksin karena sistem pernapasan mereka mirip dengan manusia.

Volker Gerdts dan timnya mamaparkan sekelompok musang sehat dengan virus dan beberapa minggu kemudian menerima suntikan penguat. Dia berharap bisa mengetahui hasilnya pada Mei apakah musang telah terlindungi covid-19 dan selanjutnya mengarah pada vaksin manusia.

Baca juga:Los Angeles Tawarkan Tes Covid-19 Gratis untuk Warga

Turki

Sebanyak 32 ilmuwan bekerja untuk menciptakan antigen yang dirancang untuk mendorong respons kekebalan terhadap virus korona jenis baru sebagai langkah pertama ke depan.

Mert Doskaya terlibat dalam penelitian yang dilakukan bersama oleh Pusat Pengembangan Obat dan Aplikasi Penelitian Farmakokinetik di Universitas Ege di Izmir dan Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki.

Dia mengatakan tim berharap untuk menerapkan vaksin pada hewan dalam waktu empat bulan untuk menentukan efektivitasnya.

Tiongkok

Negara tempat virus pertama kali terdeteksi juga merupakan salah satu yang pertama menyetujui vaksin untuk pengujian pada manusia pada 16 Maret di Beijing. Uji coba dimulai dengan CanSino Bio, sebuah perusahaan Hong Kong di bawah payung Akademi Ilmu Kedokteran Militer. Itu dikembangkan bersama dengan Beijing Institute of Biotechnology. Mereka telah mengindikasikan tahap dua uji coba akan segera berlangsung.

Amerika Serikat

Orang pertama dalam uji klinis menerima vaksin potensial 16 Maret, menurut perusahaan obat Moderna. Para ilmuwan sedang mengerjakan urutan virus, yang melibatkan pengumpulan sampel dari pasien untuk mencoba mengembangkan vaksin.

Perusahaan lain, Inovio Pharmaceuticals, mengumumkan minggu ini vaksin mereka telah diberikan kepada 40 sukarelawan sehat.

Inovio mengatakan pihaknya berharap untuk memberikan 1 juta dosis vaksin untuk studi dan potensi penggunaan darurat.

Jerman

Para ilmuwan dari perusahaan Jerman, BioNTech dan perusahaan farmasi AS, Pfizer, mengumpulkan pendapat untuk mencoba menemukan vaksin dan telah memulai uji coba pada manusia.

BioNTech mengatakan pada Rabu lalu 200 sukarelawan sehat berusia antara 18 dan 55 akan menerima vaksin. Pengujian dapat dimulai sedini minggu depan di AS, kata Pfizer, tergantung pada persetujuan regulator.

Baca juga:Joe Biden Mulai Cari Calon Wapres

Inggris

Ilmuwan Universitas Oxford terlibat dalam percobaan klinis tiga bagian yang pada akhirnya akan melibatkan 6.000 sukarelawan.

Uji coba manusia dimulai minggu lalu di Oxford dan fase pertama mencakup 510 sukarelawan berusia antara 18 dan 55 tahun.

Virus flu biasa yang lemah pada simpanse digunakan untuk memproduksi vaksin yang disebut ChAdOxl. (AA/Hym/A-3)

BERITA TERKAIT