01 May 2020, 14:37 WIB

Gerakkan Ekonomi, Serapan Produk Dalam Negeri Diutamakan


Emir Chairullah | Ekonomi

Presiden Joko Widodo mendorong seluruh kementerian dan lembaga mengutamakan penggunaan produk dalam negeri. 

Hal ini, ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, untuk meningkatkan permintaan terhadap industri lokal dan mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) saat pandemi Covid-19. 

“Agar seluruh kementerian dan lembaga mengutamakan pembelian barang yang diproduksi di dalam negeri sehingga ini dapat mendorong demand dan juga untuk mencegah pemutusan hubungan kerja,” katanya dalam keterangannya yang dikutip dari lama setkab.go.id, Jumat (1/5).

Airlangga menjelaskan, apabila tidak banyak tenaga kerja yang terkena PHK, diharapkan industri dalam negeri bisa recover lebih cepat. “Ini juga sekaligus momentum untuk mendorong penggunaan produksi dalam negeri,” ujarnya.

Sebelumnya Presiden Jokowi menyampaikan fokusnya pada enam hal yang menjadi perhatian bersama untuk memitigasi dampak pandemi terhadap sektor ketenagakerjaan. Jokowi mengingatkan paket stimulus ekonomi hanya diberikan kepada perusahaan yang tak melakukan PHK karyawannya.

Menurut Jokowi, pemerintah telah menerima informasi bahwa ada lebih dari 1 juta pekerja informal yang telah dirumahkan, 375.000 pekerja formal terkena PHK, dan 315.000 di sektor informal yang terdampak. Karena itu Jokowi ingin memastikan program stimulus ekonomi segera diimplementasikan sehingga dirasakan manfaatnya oleh para pelaku usaha.

Sementara itu, terkait dengan Kartu Prakerja, Menko Perekonomian sampaikan bahwa pelatihan saat sekarang dalam situasi Covid-19 adalah pelatihan online

“Tidak semua budget itu akan ditumpuk di online tetapi nanti akan dibuka pada saat Covid-19 itu sudah selesai ataupun sudah direlaksasi, itu akan dimulai pelatihan yang offline,” sambung Menko Perekonomian.

Ia menegaskan tidak benar bahwa seluruh paket pelatihan itu ditumpahkan ke platform tersebut karena itu nanti jumlah rata-rata yang terpakai per hari ini untuk di gelombang pertama itu rata-rata 500 ribu. “Jadi tentu kita lihat begitu jumlahnya membesar pasti dari segi market akan turun,” pungkasnya. (Che)

BERITA TERKAIT