01 May 2020, 13:23 WIB

Pandemi Korona Bisa Gandakan Angka Kematian Akibat Malaria


Atalya Puspa | Humaniora

UPAYA pencegahan dan pengobatan malaria harus tetap dilakukan di masa pandemi virus korona atau covid-19 guna mencegah meningkatnya angka kematian akibat malaria.

"Pada skenario terburuk, di mana kampanye pencegahan ditunda dan penurunan 75% akses pengobatan malaria, kematian malaria bisa meningkat dua kali lipat," kata Direktur Penyakit Menular WHO South East Asia Region, Tjandra Yoga Aditama dalam webinar Peringatan Hari Malaria Internasional, Jumat (1/5).

Berdasarkan data WHO, penderita malaria di seluruh dunia mencapai angka 228 juta pada 2018. Angka kematian akibat malaria berada di angka 405 ribu. Indonesia menempati urutan kedua di Asia dengan kasus malaria terbanyak setelah India.

Baca juga: Kemenkes Ingatkan Waspada Malaria di Tengah Pandemi Covid-19

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sepanjang 2020 terdapat sebanyak 34.758 kasus malaria yang tersebar di 294 kabupaten/kota.

Yoga menuturkan, untuk itu meskipun penyebaran covid-19 yang terus-menerus dan cepat. Namun upaya pencegahan diganosa dan pengobatan malaria harus tetap dilakukan dan tidak diabaikan. Tentunya, dengan tetap mengutamakan keamanan petugas kesehatan saat melayani.

Baca juga: Tetap Waspadai Malaria

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mengeluarkan protokol penanganan malaria selama masa pandemi covid-19 yang harus diikuti oleh semua negara.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, pihaknya memastikan pelayanan malaria tetap berjalan sesuai dengan protokol yang ditentukan.

"Untuk petugas kesehatan, diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) menerapkan phisycal distancing, dan memastikan pemberi pelayanan dalam kondisi sehat," kata Nadia

Selain itu, bagi masyarakat juga harus menerapkan protokol yang ada dengan memakai masker dan menerapkan phisycal diatancing saat berada di fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam hal pandemi covid-19, Nadia juga menuturkan terdapat risiko terjadi koinfeksi malaria dan covid-19 sehingga diperlukan upaya mitigasi.

"Pasien covid-19 yang tinggal atau berasal atau mempunyai riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria patut diduga terinfeksi malaria pula," tutur Nadia.

Untuk itu, perlu segera dilakukan pemeriksaan menggunakan rapis diagnosis test (RDT) untuk penegakan diagnostik malaria. Pemeriksaan mikroskopis juga diperlukan untuk konfirmasi lebih lanjut.

Selain upaya penanganan, Nadia menyatakan upaya pencegahan malaria dengan upaya penemuan kasus serta program pembagian kelambu di 100 kabupaten/kota di Indonesia tetap berjalan.

"Pengendalian vektor dengan pembagian kelambu massal maupun massal fokus dilakukan sesuai hasil kajian situasi epidemi covid-19 dan potensi peningkatan kasus malaria setempat

Adaptasi upaya penanggulangan malaria dapat dilakukan dengan berbagai inovasi dan best practices sesuai situasi spesifik lokal," tandasnya. (X-15)

BERITA TERKAIT