01 May 2020, 10:45 WIB

Demonstran Bersenjata Tolak Lockdown di Michigan


Basuki Eka Purnama | Internasional

DEMONSTRAN, sebagian membawa senjata api, memasuki kantor pemerintah di Negara Bagian Michigan, Amerika Serikat, Kamis (30/4), menuntut gubernur untuk mengakhiri lockdown covid-19.

Puluhan demonstran memenuhi lobi bangunan di Lansing menuntut diizinkan masuk ke ruang pertemuan anggota DPR.

Polisi yang mengenakan masker memblokade mereka. Para demonstran tidak ada yang mengenakan masker.

Baca juga: Gara-Gara Covid-19, Trump Ancam Tiongkok dengan Tarif Baru

"Tepat di depan saya, orang bersenjata berteriak ke arah saya," cicit Senator Dayna Polehanki sembari mengunggah foto empat pria, salah satunya membawa senjata api.

"Beberapa rekan saya mengenakan rompi antipeluru. Saya sangat mensyukuri kehadiran para pengawal di gedung ini," imbuhnya.

Lebih banyak demonstran terlihat di luar bangunan termasuk seseorang yang membawa spanduk yang menyamakan Gubernur Gretchen Whitmer dengan Adolf Hitler.

Demonstrasi yang bertajuk Aksi Patriot Amerika digelar oleh kelompok yang menamakan diri Michigan United for Liberty.

"Kami tidak pernah menyepakati hak kami dibatasi atau dilarang karena alasan apa pun, termasuk pandemi covid-19," ujar kelompok itu di laman Facebook mereka yang memiliki 8.800 anggota.

"Kami percaya setiap warga Amerika dan Michigan memiliki hak untuk bekerja untuk keluarga mereka, melakukan perjalana dengan bebas, berkumpul untuk beribadan dan kepentingan lain, memprotes pemerintah, dan mendapatkan perawatan medis secara mandiri," imbuh kelompok itu.

Aksi demonstrasi itu digelar sehari setelah Pengadilan Michigan memutuskan perintah di rumah saja yang dikeluarkan Whitmer pada 24 Maret tidak melanggar ahk konstitusi warga.

Ini merupakan aksi demonstrasi kedua dalam bulan ini yang menuntut Whitmer mencabut lockdown di negara bagian yang telah mencatatkan 3.500 korban tewas akibat covid-19.

Pada 16 April lalu, sekitar 3 ribu orang, sebagian membawa senjata api, melakukan aksi di Lansing dan menyebabkan kemacetan di ibu kota negara bagian itu. (AFP/OL-1)

 

BERITA TERKAIT