01 May 2020, 08:10 WIB

Gara-Gara Covid-19, Trump Ancam Tiongkok dengan Tarif Baru


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Kamis (30/4), mengancam Tiongkok dengan tarif baru ketika ia meningkatkan serangannya terhadap Beijing atas krisis pandemi virus korona baru (covid-19).

Trump mengaku telah melihat bukti yang menghubungkan laboratorium di Wuhan dengan penularan covid-19 yang melanda dunia.

Dikutip dari AFP, Jumat (1/5), wabah virus korona sejauh ini telah menewaskan lebih dari 230 ribu orang dan memaksa lebih dari setengah umat manusia untuk hidup di bawah semacam penguncian wilayah atau lockdown. Kondisi tersebut telah melumpuhkan ekonomi.

Virus itu diyakini berasal dari sebuah pasar di Kota Wuhan, Tiongkok, akhir tahun lalu.

Baca juga: Jumlah Korban Tewas Akibat Covid-19 di Prancis Turun

Pasar tersebut menjual hewan liar untuk dikonsumsi manusia. Namun, spekulasi telah menyasar ke laboratorium rahasia di kota tersebut.

Saat ditanyakan apakah dia telah melihat sesuatu yang membuatnya sangat yakin bahwa Institut Virologi Wuhan adalah sumber dari wabah tersebut, Trump menjawab, "Ya, sudah".

Ketika ditanyakan kembali oleh wartawan di Gedung Putih mengenai rincian keyakinannya tersebut, Trump mengatakan, "Saya tidak bisa memberi tahu Anda tentang itu".

Terkait laporan bahwa dia bisa membatalkan kewajiban utang AS ke Tiongkok, Trump mengatakan dia bisa "melakukannya secara berbeda" dan bertindak yang mungkin sedikit lebih jujur.

"Saya bisa melakukan hal yang sama tetapi bahkan untuk lebih banyak uang, hanya mengenakan tarif," katanya.

Meskipun gencatan senjata dalam perang dagang yang sudah berlangsung lama antara Washington dan Beijing tercapai pada Januari, tarif sudah diberlakukan pada dua pertiga perdagangan antara kekuatan ekonomi tersebut.

Dikutip dari Channel News Asia, seorang pejabat senior administrasi Trump yang berbicara dengan syarat anonim, Rabu (29/3) mengatakan "gencatan senjata" informal dalam perang kata-kata yang pada dasarnya disetujui oleh Trump dan Xi melalui telepon pada akhir Maret tampaknya telah berakhir. (OL-1)

BERITA TERKAIT