01 May 2020, 07:45 WIB

Pemudik Tetap Masuk Melalui Jalur Tikus


Akhmad Safuan | Nusantara

DI tengah pandemi virus korona dan larangan mudik untuk mencegah penyebaran covid-19, pemudik masih nekat mencari celah kelengahan petugas dan melaluijalan tikus untuk tetap dapat pulang ke kampung halaman.

Jumat (1/5), warga perantau masih tetap bandel untuk pulang ke kampung halaman saat pandemi covid-19 sedang terjadi. Ketika jalur-jalur utama disekat untuk mencegah pemudik pulang kampung, pemudik mencari celah melalui jalur tikus.

Salah satu jalur tikus yang dipilih para pemudik adalah melalui Desa Getas, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora yang berada di perbatasan Blora (Jawa Tengah) dengan Kabupaten Ngawi (Jawa Timur). Karena selain jauh dari pantauan petugas, juga kondisi wilayah cukup terpencil dengan infrastruktur jalan yang cukup berat dengan sebagian masih jalan tanah dan urukan pasir batu (sirtu).

Baca juga: ASN Serang Berani Mudik bisa Dipecat

Berjarak sekitar 45 kilometer dari ibu kota Blora atau 165 kiloneter dari Kota Semarang, Jawa Tengah, jalur itu cukup berat dengan keterbatasan infrastruktur dan sebagian nenembus jalan hutan yang masih berupa tanah dan berlumpur saat hujan serta tidak ada penerangan.

Jalur itu dianggap sebagai pilihan yang aman bagi pemudik, meskipun terbatasnya angkutan yang melintas dan hanya menggunakan kendaraan roda dua.

Kepala Desa Getas, Kecamatan Kradenan, Blora Subowo nengatakan desa itu menjadi salah satu gerbang masuk pemudik dan pendatang dari Ngawi, Madiun, dan Magetan (Jawa Timur) serta Solo Raya sejak arus mudik berlangsung, terutama sejak adanya pentekatan di ruas-ruas jalur utama terkait larangan mudik.

"Kami sudah berusaha mencegah dengan mendirikan pos pantau secara swadaya. Namun, keterbatasan yang ada menjadikan hal itu tidak dapat maksimal," kata Subowo.

Warga Desa Getas, lanjut Subowo, juga tidak ingin virus korona masuk ke wikayah Blora. Namun, keterbatasan personel Polri dan TNI serta jauhnya lokaso dari pemerintahan menjadi permasalahan.

"Di sini hanya ada Puskesmas Pembantu dengan satu perawat dan satu budan desa, tidak ada dokter. Kami juga hanya memiliki satu Babinsa serta satu Babinkamtibmas," imbuhnya.

Langkah swadaya yang dilakukan warga Desa Getas untuk mengendalikan masuknya pemudik melalui jalur tikus ini cukup keras. Di gerbang desa terpampang baliho 'Pendatang Eggak Lapor Jotosi!!' Namun, tetap saja pemudik dapat lolos katena keterbatasan sumber daya warga seperti
masuknta 9 santri dari Ponpes Temboro, Magetan yang mudik melalui jalur itu. Satu di antara mereka ternyata positif virus korona.

Wakil Bupati Blora Arief Rohman membenarkan kondisi itu. Bahkan, ke depan berbagai upaya akan dilakukan seperti pengusulan pembangunan infrastruktur, mendirikan puskesmas dan lainnya untuk dapat memberikan pelayanan kepada warga dan sekaligus menjadi benteng dalam kondisi seperti sekarang ini.

"Saya sangat mengapresiasi langkah yang ditempuh warga, TNI, dan Polri dalam mencegah covid-19 di desa perbatasan ini, tapi keterbatasan menjadi kendala seperti puskesmas, kecamatan, Polsek, dan Koramil terdekat berjarak belasan kilometer dari desa ini," kata Arief Rohman.

Desa Getas, Kecamatan, Kradenan itu, menurut Arief Rohman, sebenarnya dapat menjadi titik perekonomian baru di Blora Selatan, karena terletak di jalur perlintasan antara Randublatung-Ngawi, bahkan pembangunan jalan Randublatung-Getas sampai batas Ngawi tahun ini sudah diusulkan kelanjutannya tetapi ada wabah korona agak tertunda lagi. (OL-1)

BERITA TERKAIT