01 May 2020, 05:45 WIB

Covid-19 Sebabkan Jumlah Wisman Turun 60%


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

KEPALA Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menuturkan pandemi covid-19 mulai berdampak pada tingkat wisatawan mancanegara (wisman) sejak Februari 2020. Jumlah wisman pada saat itu turun hingga 28% dibandingkan periode yang sama pada 2019.

Penurunan jumlah wisman terbesar berasal dari Tiongkok, Hong Kong, Papua Nugini, Taiwan, dan Uni Emirat Arab. Curamnya penurunan jumlah wisman paling nyata terjadi pada wisman asal Tiongkok.

"Di 2019, wisman Tiongkok itu menyumbang 13%. Tapi, pada Februari 2020, sudah tidak ada share-nya sama sekali. Angka Maret baru kita rilis pada Senin (4/5), tapi bisa saya infokan penurunannya akan jauh lebih tajam di kisaran 60%," kata Suhariyanto dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Kamis (30/4).

Baca juga: Akibat Pandemi, 1,6 Miliar Pekerja Terancam Kehilangan Pendapatan

Penurunan jumlah wisman, lanjut dia, berimplikasi pada tingkat hunian kamar hotel yang juga menurun tajam. Ujungnya ialah banyaknya pekerja di bidang kepariwisataan yang dirumahkan hingga di-PHK.

"Pada gilirannya, ini juga mempengaruhi pertumbuhan sektor industri ekonomi kreatif dan perdagangan serta transportasi," tambah Suhariyanto.

Di sektor transportasi, pada Februari, angkutan udara internasional mengalami kontraksi hingga 20%. Itu disebabkan pandemi telah merebak di Tiongkok. Meski begitu, angkutan udara yang melayani jalur domestik, kata Suhariyanto, belum terdampak saat itu.

Akan tetapi, setelah digaungkan arahan untuk work from home (wfh), Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan pelarangan mudik, jasa transportasi domestik akan ikut terdampak dan akan terlihat pada triwulan II.

"Kita melacak flight taker di Jakarta yaitu Bandara Soekarno Hatta dan Halim Perdana Kusuma. Begitu curam keberangkatan domestik dari Jakarta, misalnya ke Surabaya mengalami penurunan 67%, ke Denpasar 86%, Makassar 77%. Demikian juga kedatangan pesawat ke Jakarta, dari Medan mencapai 63%," imbuh pria yang karib disapa Kecuk itu.

"Untuk internasional, menjadi lebih dalam lagi, misalnya dari Jakarta ke Singapura itu turun 85%, ke Malaysia 94%, ke Hong Kong 60%. Yang masih agak normal itu hanya ke Jepang dan hanya stabil sampai Maret. Pada April sudah mulai turun tajam. Situasi ekonomi di triwulan II akan betul-betul berat sekali," sambungnya.

Senada, di kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I diprediksi masih akan tumbuh positif di kisaran 4,5% hingga 4,7%.

"Kuartal I masih diperkirakan antara 4,5%-4,7%, ini karena kita rekam dari penerimaan perpajakan kita dan dari berbagai indikator penjualan sampai dengan Maret minggu ke-1 dan menjelang minggu ke-2, itu relatif masiih belum terpengaruh, kecuali sektor tourism yang memang sudah mulai terpukul sejak Januari akibat mulainya penutupan semua flight yang berasal dari RRT," jelas Menkeu.

Namun, hal itu akan berubah ketika di kuartal II dan III. Itu karena pandemi covid-19 mulai masuk dan berdampak cukup signifikan pada Maret 2020. (OL-1)

BERITA TERKAIT