30 April 2020, 16:06 WIB

Wabah Belum Reda, Menkeu Belum Bisa Prediksi Pertumbuhan Ekonomi


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia saat ini amat dipengaruhi pada kondisi pandemi covid-19. Semakin cepat pandemi itu ditangani, semakin cepat pula pemulihan ekonomi dilakukan dan berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Indonesia, hingga kuartal pertama 2020 diprediksi tetap akan tumbuh positif lantaran di Januari hingga awal Maret 2020 ekonomi nasional masih berputar cukup baik. Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kuartal I akan berada dikisaran 4,5% hingga 4,7%.

"Low casting kita, kuartal I masih diperkirakan antara 4,5%-4,7%, ini karena kita rekam dari penerimaan perpajakan kita dan dari berbagai indikator penjualan sampai dengan Maret minggu ke-1 dan menjelang minggu ke-2, itu relatif masiih belum terpengaruh, kecuali sektor tourism yang memang sudah mulai terpukul sejak Januari akibat mulainya penutupan semua flight yang berasal dari RRT," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Kamis (30/4).

Bila prediksi itu benar, maka akan menjadi suatu hal yang positif bagi Indonesia karena bila dibandingkan dengan Amerika Serikat yang telah terkontraksi sangat dalam. Perbandingan dengan AS dilakukan lantaran masuknya pandemi di waktu yang hampir bersamaan.

Sri Mulyani menuturkan, ekonomi Indonesia akan tertekan dan menghadapi tantangan yang berat pada kuartal II dan kuartal III. Itu dikarenakan mulai berlakunya pembatasan gerak sosial serta ekonomi yang akhirnya menghambat aktivitas perekonomian nasional.

Baca juga : Pemberian BLT Indonesia Harus Contoh Seperti Belanda

"Kita tetap waspada karena memang dampak covid ini mulai terasa pada minggu terakhir Maret, dan April-Mei itu merupakan puncaknya. Kalau prediksi mengenai covid itu benar dan bisa dipercaya yang akan berakhir pada Mei, maka Juni atau Juli mulai bettering," jelas Menkeu.

Untuk itu, mengeluarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian akan sangat riskan. Yang ada, kata dia, yakni skenario agar pemerintah dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.

Saat ini, secara menyeluruh, pemerintah menggunakan dasar skenario pertumbuhan ekonomi 2020 akan berada dikisaran 2,3%. Itu diasumsikan pandemi akan berakhir pada Juli 2020. Sedangkan skenario buruknya ialah pertumbuhan ekonomi akan negatif 0,5% dan pandemi akan selesai lebih lama.

"Membuat proyeksi hari ini merupakan sesuatu yang riskan," tuturnya.

Namun ia memaparkan, beberapa lembaga dunia yang mengeluarkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020. International Monetary Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di angka 0,5%.

Baca juga : Tertekan Pandemi, BUMN Diminta Serap Produk Perikanan

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 2,1% dan terburuk ialah -3,5%. Asian Development Bank (ADB) memprediksi Indonesia akan memiliki pertumbuhan 2,5%. Sedangkan embaga pemeringkat Moody's Investor memprediksi Indonesia akan tumbuh 3,0% di 2020.

"Kalau economic inteelegence unit dari negara di G20 hanya 3 negara yang diprediksi masih positif yaitu RRT, India dan Indonesia tapi itu pun pada kisaran 1%," jelas Ani.

Ia menambahkan, ketidakpastian akibat pandemi dan sosial politik global amat berpengaruh pada ekonomi nasional. Itu dapat dilihat dari realisasi asumsi makro APBN 2020.

Inflasi yang dalam APBN diasumsikan 3,10 hingga 30 April 2020 berada di level 0,76; nilai tukar rupiah yang diasumsikan Rp14.400 terhadap dolar AS kini berada dikisaran Rp15.553 per dolar AS; suku bunga yang diasumsikan 5,4% kini hanya 2,5% dan harga minyak mentah yang diasumsikan US$63 per barel kini hanya US$52 per barel.

"Ini adalah konteks indikator ekonomi makro, kalau dillihat sepintas sampai dengan Maret, mungkin tidak terjadi banyak deviasi terutama di growthnya, itu akan terlihat di kuartal yang akan datang. Kalau low casting kemenkeu benar di kuartal I, maka deviasi itu belum terihat dramatisnya dampak covid ini," pungkas Ani. (OL-7)

BERITA TERKAIT