30 April 2020, 00:35 WIB

Mengubah Desa Jadi Destinasi Ekowisata


MI | Nusantara

BERMULA dari gerakan menanam bibit mangrove melibatkan sekolahsekolah, perjuangan Subhan dan para pemuda di desanya mendapat dukungan luas. Para guru dan siswa sangat antusias membeli bibit yang dipatok Rp2.500 per pohon. Uangnya untuk operasional Pokmaswas Hijau Daun termasuk perbanyakan bibit.

Mereka yang menanam sebanyak 20 bibit akan mendapatkan papan nama turut berpartisipasi melestarikan lingkungan di hutan mangrove dari Pokmaswas.

“Kami memperbanyak bibit dari pohon bakau yang tersisa. Adapun ilmu pembibitan kami peroleh dari pelatihan di DKP Provinsi Jatim.” 

Setelah 2015, kata Subhan, dari semula yang berpartisipasi menanam mangrove hanya sekolah-sekolah di Desa Daun, selanjutnya gerakan semakin meluas hingga merambah seluruh sekolah di Pulau Bawean.

“Animo lembaga pendidikan cukup baik dalam merespons upaya melestarikan lingkungan.”

Selanjutnya, harga bibit mangrove dinaikkan menjadi Rp7.500. Tim corporate social responsibility (CSR) PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) turut mendukung gerakan Pokmaswas Hijau Daun dengan membeli 10 ribu bibit mangrove seharga Rp4.500 per bibit sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.

Sejak saat itu menjadi titik balik dari perkembangan organisasi yang dikelola para pemuda. Bibit mangrove yang ditanam tumbuh subur hingga terjadi perubahan lingkungan lebih baik.

Selain mangrove, para pemuda juga menanam pohon cemara. Sekitar 6.500 pohon cemara tumbuh subur di kawasan setempat termasuk di Pulau Noko Selayar dan Pulau Noko Gili. Pohon-pohon yang memiliki akar kuat menjadi benteng penahan derasnya air laut ke daratan. Sawahsawah produktif lagi, semula hanya 2 hektare (ha), kini menjadi 8 ha, petani pun bisa menanam padi hingga panen seperti sebelum 1998. Nelayan juga lebih mudah mendapatkan udang, kepiting, dan ikan di pantai.

Perjuangan para pemuda itu mampu mengantarkan desa mereka memenangi lomba pelestarian lingkungan pesisir yang digelar DKP Provinsi Jatim pada 2016, menyabet juara satu tingkat provinsi. Kawasan hutan mangrove di desa itu kini menjadi destinasi pariwisata.

Para aktivis Pokmaswas Hijau Daun mengelola ekowisata termasuk mengembangkan potensi ekonomi budi daya kepiting, usaha warung
makanan, dan tambak garam. Perlahan tapi pasti, hutan mangrove yang dihijaukan sudah mencapai 8 ha dari semula 6 ha merambah Pulau Cina, di sebelah barat Pulau Bawean. (BS/M-4)

BERITA TERKAIT