29 April 2020, 21:35 WIB

Di Masa Pandemi Covid-19, Sumut Kendalikan Kresek dan Blas Padi


mediaindonesia.com | Ekonomi

Meski dalam kondisi pandemi corona virus disease (Covid) 19, pihak Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Sumatera Utara (Provsu) tetap berupaya mengawal pertanaman padi petani. Kali ini, penyakit Blight Leaf Bacterial (BLB) kerap disebut kresek dan blas (rice blast) digusur melalui Gerakan Pengendalian, beberapa waktu lalu.

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT PTPH) Dinas TPH Provsu, Marino, gerakan Pengendalian dilakukan di dua wilayah kelompok tani, yakni Kelompok Tani Jadi dan Sahata Desa Nauli, Kecamatan Sigumpar, Kabupaten Toba serta Kelompok Tani Saur Dot Desa Nalela Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba.

"Kresek dan Blas merupakan beberapa penyakit utama padi sawah dan menjadi momok bagi petani dunia, sehingga harus segera kita kendalikan," ungkapnya di ruang kerja kawasan Jalan AH Nasution Medan.

Ia mengemukakan, organisme pengganggu tumbuhan (OPT) seperti kresek disebabkan oleh patogen bakteri Xanthomonas Oryzae pv. Oryzae (Xoo). Bakteri ini bisa menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka atau pun lubang alami seperti stomata, sehingga merusak klorofil (zat hijau) daun. Dampaknya, kemampuan tanaman melakukan fotosintesis akan berkurang.

"Kalau hal itu terjadi pada tanaman muda, maka akan mati. Sementara bila dialami tanaman di fase generatif, pengisian gabah menjadi tidak sempurna sehingga dikhawatirkan gabah menjadi hampa," paparnya.

Ditambahkannya, Gerakan Pengendalian penyakit Kresek dan Blas di wilayah Kabupaten Toba itu melibatkan anggota Kelompok Tani Jadi dan Sahata bertajuk 'Gerakan SPOT STOP'.

Gerakan yang digaungkan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian ini maksudnya, kata Marino, SPOT merupakan sumber serangan dan STOP berarti dikendalikan (berhenti). Dengan kata lain, Gerakan SPOT STOP merupakan tindakan yang dilakukan secara dini untuk mengendalikan sumber serangan OPT agar tidak menyebar dan menimbulkan kerusakan. “Bapak Dirjen Tanaman Pangan Suwandi mewanti-wanti untuk dilakukan gerakan SPOT STOP saat serangan OPT mulai mengganggu pertanaman  dengan koordinasi yang baik antara petugas lapang dan petani,” ujarnya.

"Gerakan SPOT STOP dilakukan petugas POPT-PHP (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan-Pengamat Hama Pertanian, Red) bersama anggota kelompok tani Jadi dan Sahata  dalam upaya mengamankan produksi padi," sebutnya.

Secara terpisah, Koordinator POPT-PHP Toba, Jasminto Siahaan, menjelaskan, 'Gerakan SPOT STOP' dilakukan pada tanaman padi fase vegetatif di areal seluas 35 hektar (ha) sebagai respons cepat sebelum menyebarnya serangan Kresek dan Blas ke fase generatif. Hal itu berdasarkan hasil pengamatan petugas POPT-PHP pada pertanaman padi sawah varietas lokal usia 40-60 hari setelah tanam di areal yang terserang seluas 30 hektar (ha) dan luas waspada berkisar 85 ha.

Jasminto berjanji untuk melakukan pengamatan lanjutan bersama petugas lapang setelah pengaplikasian pengendalian. Apalagi, para petani berencana melakukan gerakan pengendalian secara swadaya pada waktu dekat sebagai tindak lanjutnya.

Kepala Dinas TPH Provsu, Dahler Lubis menyambut positif rencana para petani untuk melakukan gerakan pengendalian secara swadaya. Pasalnya, upaya yang dilakukan selama ini sebatas mengajarkan kepada para petani bagaimana cara mengendalikan hama dan penyakit tanaman secara massal dan serentak agar bisa dilakukan saat para petani menghadapi masalah serupa, tanpa bergantung kepada pihak lain.

"Rencana para petani melakukan gerakan pengendalian secara swadaya patut kita acungkan jempol. Ini salah satu indikasi keberhasilan dalam memberikan stimulan gerakan pengendalian kepada para petani," tegasnya.

Pada kesempatan itu, Dahler mengingatkan para petani untuk selalu mengamati pertumbuhan tanaman padinya. Karena penyakit Kresek dan Blas berpotensi menyerang semua fase pertumbuhan, baik sejak persemaian hingga menjelang panen.

Dahler juga menyarankan para petani untuk tidak berlebihan menggunakan pupuk Nitrogen pada tanaman padi, selain tetap memanfaatkan pupuk kalium.  "Para petani harus lebih cermat menggunakan pupuk untuk kebutuhan tanamannya agar terhindar dari serangan hama dan penyakit," sebut Dahler.
 
Pihaknya juga mengapresiasi para petugas POPT-PHP yang telah bertugas secara maksimal dalam upaya mengawal pertanaman padi di wilayah Sumut. Hal ini sesuai dengan amanah yang diberikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk tetap melakukan pengawalan dalam kondisi apapun. Karena petani dan petugas lapang adalah garda terdepan yang menyediakan pangan bagi rakyat Indonesia. (RO/OL-10)

BERITA TERKAIT