29 April 2020, 20:45 WIB

Sarjana Pertanian Sukses Kembangkan Susu Pasteurisasi Mimilk Cucu


mediaindonesia.com | Ekonomi

Seorang sarjana pertanian asal Ngawi, Aji Amin Setiadin, 24, sukses mengembangkan susu pasteurisasi dari susu sapi murni, yang diberinama Mimilk Cucu. Susu ini memberikan alternatif buat kalangan milenial yang sedang menggandrungi minuman kopi.

Biar lebih akrab dengan milenial, Aji menghadirkan Mimilk Cucu dalam berbagai varian rasa, ada rasa chocolate, taro, dan durian. Minuman kekinian ini dikemas menggunakan cup/gelas plastik dengan tutup cembung (dome lid). Sehingga keliatan trendi, lebih simpel, praktis dan tidak mudah tumpah, dan bisa dibawa ke mana-mana. Satu cup Mimilk Cucu ukuran 400 ml dibrandrol dengan harga Rp8 ribu untuk semua varian rasa.

“Selain berangkat dari peluang karena orang semua berjualan kopi, saya ada juga keinginan untuk menyadarkan kalangan milenial tentang pentingnya minum susu,” ujar Aji disela aktivitas produksinya, Rabu (29/04/2020), di Singosari.

Baca Juga: Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian RI Sigap Covid-19

Aji mulai merintis usahanya dengan mendirikan kelompok usaha Milkindo Sehat Sejahtera bersama teman-temannya pada 2019. Atau, ketika ia lulus dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan Malang), salah satu perguruan tinggi vokasional pertanian di lingkup Kementerian Pertanian (Kementan).

Kala itu, Aji langsung mengajukan diri untuk mendapat fasilitas program dari Kementan, yaitu program untuk percepatan regenerasi petani melalui program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP). Hasilnya, Aji mendapatkan stimulus modal Rp35 juta.

Dengan modal di tangan, Aji lalu menyiapkan strategi pemasaran. Seperti membuka outlet (street food) di pinggir jalan, Jl. Pagentan No.60 Singosari. Ia juga melayani pembeli secara online bekerja sama dengan ojek online (GoFood). Rencananya, Aji akan menjalin kemitraan dengan rekan-rekan bisnisnya untuk membuka outlet di 4 lokasi berbeda yaitu, Lawang, Lumajang, Madiun, dan Ngawi.

“Satu outlet per hari, menghabiskan susu sapi murni sekitar 3-5 liter dan kalau weekend bisa mencapai 7-10 liter,” tutur anak pertama dari pasangan Samini dan Warsodari Ngawi ini.

Bahan susu sapi murni diperolehnya dari para peternak sapi perah di daerah Jabung, beberapa kilo meter dari tempat tinggalnya. Ia memperolehnya melalui kerja sama dengan salah satu peternak modern yang sudah memiliki fasilitas bagus, baik dalam pemeliharaan maupun pascapanennya. Sehingga kualitas susu dan higienitasnya dijamin bagus dan aman. Harga susu sapi murni yang didapatkannya pun cukup bersaing dan selalu ready stock.

Menurut Aji, bermitra dengan baik adalah kunci keberhasilan untuk membangun usaha. Selain dengan para peternak, bermitra dengan warung-warung sekitar juga penting. Cara inilah yang dikembangkan Aji, sehingga terbukti sudah hampir setahun ini usahanya bisa berjalan dengan baik.

Situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, diakuinya berpengaruh terhadap penjualan offline. Tapi saat bulan Ramadan, mulai ada kenaikan penjualan lagi. Untuk menyiasatinya, ia juga membuat promo di GoFood selaku mitra penjualan online untuk menyasar segmen pembeli kalangan milenial.

Langkah Aji ini sejalan dengan seruan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang meyakini usaha dan kredibilitas generasi muda di bidang pertanian saat ini semakin berkembang.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar Menteri Syahrul.

Berdasarkan data saat ini, Indonesia memiliki 33,4 juta petani. Sejumlah 30,4 juta (sekitar 91%) sudah berusia tua. Hanya 2,5 juta atau sekitar 9% yang merupakan petani milenial.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi menambahkan, pertanian merupakan garda terdepan di tengah pandemi Covid-19 ini. Untuk itu perlu pelopor pertanian yang diharapkan membuat jejaring untuk menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian. Selain sebagai penghela peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian serta produktivitas lahan dan komoditas.

“Dengan adanya teknologi saat ini petani pengusaha dapat menggandeng tokoh masyarakat untuk promosi melalui e-commerce, sehingga memperpendek rantai pasok," tegas Dedi. (RO/OL-10)

BERITA TERKAIT