29 April 2020, 20:31 WIB

Indonesia Ambil Peran Aktif dalam Riset Covid-19


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

INDONESIA mengambil peran aktif dalam upaya untuk memperbaiki upaya pelayanan kesehatan dan menurunkan angka kematian pada pasien covid-19. Karena itu pemerintah telah bergabung dalam Solidarity Trial yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Indonesia adalah satu di antara lebih dari 100 negara yang tergabung dalam inisiatif Solidarity Trial WHO untuk Covid-19. Wadah ini ditujukan untuk mencari perawatan yang paling efektif untuk pengobatan penyakit virus korona baru.

Retno menjelaskan, Solidarity Trial dilakukan melalui perbandingan antara pelaksanaan perawatan yang standar dengan perawatan yang menggunakan empat jenis obat-obatan yang sedang diujicobakan.

Keempat obat-obatan tersebut yaitu remdesivir, gabungan lopinavir/ritonavir, gabungan lopinavir/ritonavir ditambah interferon (ß1b), dan chloroquine atau hydroxychloroquine.

Solidarity Trial merupakan suatu program WHO untuk melakukan pengujian klinik terhadap 4 alternatif terapi yang sudah dilakukan selama ini.

“Dari koordinasikan yang dilakukan dengan berbagai pihak, Indonesia memperoleh informasi berbagai kerja sama di skala nasional dan internasional saat ini intensif dilakukan untuk pengembangan vaksin maupun uji coba obat-obatan covid-19,” ujar Retno dalam konferensi pers virtual, Rabu (29/4) sore.

Kerja sama itu melibatkan sejumlah industry farmasi dan lembaga riset misalnya antara Kimia Farma dan Gilead Science (Amerika Serikat) tengah menjajaki penggunaan remdesivir. Saat ini sedang menunggu hasil uji klinis di AS.

Selanjutnya, kerja sama antara Bio Farma dan lembaga Eijkman dalam pengembangan plasma darah untuk membantu pasien covid-19 dengan gejala sedang.

Sementara itu Bio Farma dengan Kemenristek dan Eijkman telah membentuk konsorsium untuk pengembangan vaksin. “Konsorsium ini juga akan berkolaborasi dengan mitra-mitra internasional,” kata Retno.

Solidarity Trial merupakan suatu program WHO untuk melakukan pengujian klinik terhadap 4 alternatif terapi yang sudah dilakukan selama ini, yaitu remdesivir, gabungan lopinavir/ritonavir, gabungan lopinavir/ritonavir ditambah interferon (ß1b), dan chloroquine. (OL-8).

BERITA TERKAIT